(Sengaja) Main ke Jakarta Aquarium

Ada di list plan liburan semester ini, tapi masih maju mundur sama lokasi di Jakarta dan harga tiket masuknya. Ya namanya manusia tetap Allah yang kabulkan, mendadaklah kami ke Jakarta karena suatu hal. Sebelum kembali ke Bandung mampir dulu, bukan mampir karena sejalan tapi diniatin dari timur ke barat balik lagi ke timur langsung arah Bandung.

Lokasinya di mall yang tetanggaan sama Taman Anggrek dan Central park, malah ada kejadian yang bikin malu karena insiden si mall tetanggaan ini.

Tiket masuk 175k/org yang standar dan 225k/org buat yang premium. Premium ini buat 4 jam di dalam plus nonton 5D. Anak-anak di bawah 120cm biayanya 75k. Oia, bisa sea track juga di sini, jalan dibawah air, biaya kalau dari loket depan include semua 500k, tapi kalau sudah di dalam terus berencana mau masuk ke dalam aquarium biayanya 350k. Sering-sering cek website travel promo suka ada info diskon.

Rencana sih cuman berempat udah dihitung-hitung taunya meleset karena Uti ikut juga. Gpp biar mamah jd kekinian masuk sini.

Tempat ini satu naungan sama Taman safari, ya sebut saja taman safari yang di Cisarua, Pringen, Bali jadi kalau a lil bit pricey ya wajar lah ya. Begitu selesai bayar tiket masuk kita dipersilahkan sama petugasnya buat foto-foto di booth yang sudah disediakan. Karena 3 dari kami templatenya gak gitu suka sama foto jadi ekspresinya pun gak exicted.

Pintu masuk semacam lorong gelap dengan nuansa biru, ya semacam underwater tapi bikin Arka malas masuk ­čśü. Karena ini Konsepnya aquarium jadi binatang-binatang pun ya di dalam aquarium, ada beberapa hewan yang unik ditata seapik dengan latar kayu dan daun-daun dengan teknik aquascape. Ada petugas merangkap jadi guide yang tak sungkan memberi informasi apalagi kita butuh jawaban, di depan setiap tempat binatang ini ada semacam (gadget) tablet info yang bisa disentuh tentu saja jadi mempermudah kita dan menambah wawasan tentang binatangnya itu sendiri.

Ada space kecil yang kita bisa berdiri dibawahnya ada ikan-ikan berenang, tenang kata petugasnya gak akan pecah karena terbuat dari aqlyric yang sangat tebal jadi bukan dari kaca. Bisa sampai 1 ton kekuatannya. Ya tetap saja jiper berdiri di atasnya.

.

Jakarta Aquarium ini terdapat 2 lantai, setelah puas lihat binatang kecil-kecil ada tangga menuju ke bawah dengan koleksi yang gak kalah banyak. Oia gak boleh sembarang sentuh binatang ini ya meski ukuran aquariumnya kita yang dewasa bisa dengan mudah mengapainya sebaiknya jangan coba-coba. Ada peringatan di setiap kaca aquariumnya.

Foto keluarga dulu.

Lantai bawah

<

<

Ada area touch pool juga, tapi sebelum pegang-pegang cuci tangan dulu, ada wastafel di sebelahnya. Ada jam feeding para ikan tapi kata petugasnya pas di area ini sebaiknya tidak dipegang binatangnya karena kondisinya mereka lagi diberi makan.

<<

<

Ada area art, creativity juga. Selain jual souvenir bisa juga cetak foto (bukan foto yang sebelumnya) bisa dari gadget kita sendiri dipindah ke media lain, seperti gelas, kaos, gantungan kunci. Yang bikin happy ituada jelly fish, sayang seribu sayang koleksinya sedikit sekali :(.

<

Kaya yang di Sentosa ya? (Emang uda pernah ke sana? Bahaha belum, doain aja).

<

Terdengar suara musik ternyata emang ada di spot dekat pintu keluar.

.

Dekat pintu exit ada stand cetak foto, pas iseng tanya berapa kalau mau cetak foto petugasnya bilang 160k/foto, kraaaay. Iseng lihat hasil foto sementara tadi pas masuk gak ada yang bener mukanya, ya aku lempeng ajak yang lain keluar karena sudah selesai.

Mau cari oleh-Oleh atau souvenir? Tenang, begitu kita keluar pintu langsung ke tempat souvenirnya.

.

Review dan tips mau ke sini, parkir kendaraan roda 4 itu dipaling atas. Sedangkan Aquarium ada di lantai bawah jadi sekitar 6lantai di bawah, prepare lah langsung naik lift. Resto banyak, apalagi ada resto pingo yang bisa lihat penguin di sebelah Aquarium, harganya sedikit pricey karena kami rombongan jadi cari yang murah-murah aja. Kebanyakan resto korea sih, jadi kalau mau cari yang aman di lidah lumayan jauh jalannya, terus bisa tiba-tiba sudah di mall tetangga aja.

Bagus dan keren gak Aquarium ini? Jangan disamain sama yang di daerah utara itu ya, konsepnya terlihat sama tapi beda. Namanya juga aquarium semua di”pajang” di dalam kotak kaca, edukasi pasti dapat apalagi kemudahan mendapatkan informasi dengan adanya tablet di setiap aquarium nya. Terakhir saya masuk yang satu lagi itu 2 tahun yang lalu pas mereka baru buka lagi setelah pergantian managemen, dan ya gitu aja sama kaya sebelum-sebelumnya tidak ada perubahan, jadi saya masuk ke aquarium semacam dapat hiburan baru lah.

Bagus iya, keren belum, belum sampai tahap situ karena koleksinya masih belum banyak jadi ada beberapa bagian bukan asli hanya gambar via lcd. Semoga semakin kedepan koleksi bertambah, apalagi petugasnya helping banget kasi info juga lengkap, top.

Saya sih betah lama-lama di dalam apalagi di lingkungan mall jadi udah pasti rapih dan bersih.

Selamat berlibur.

Advertisements
(Sengaja) Main ke Jakarta Aquarium

Kala demam

Ini cerita minggu kemarin, alhamdulilah obat sudah habis, anaknya sudah bisa tertawa lagi (yang penting).

Kala tiba-tiba anget sore setelah tidur siang, berusaha tenang tapi tetep panik. Iya saya yang masih trauma sama anak sakit emang gak bisa berusaha tenang kalau mulai menunjukan hal-hal tersebut. Kadang Kala suka anget pagi-pagi kalau malamnya tidurnya keganggu atau tidak nyenyak. Tapi ini sore demamnya. 37,7c mungkin buat sebagian orang ini masih “cemen”, gpp beda orang beda pembawaan. Yang saya raba yang anget itu “cuman” kepala dan bagian perut ke atas, tangan dan kaki suhunya biasa (dingin).

Yang bikin worry Kala sedang tidak batpil, batuk dan pilek kalau lagi nangis. Nah, 2 minggu ini di kelas Arka terutama hampir setengah kelas sakit. Awalnya tentu saja dari demam dan sebagian ada yang batpil kemudian demam. Dan saya beserta ibu-ibu yang lain sempat menengok anak-anak setengah kelas. Ada yang kena virus tapi cek typus dan Db negatif sampai keluar rumah sakit besoknya masuk kembali, ada yang typus 2 orang sisanya demam karena virus. Namanya emak-emak parno ya kepikiran kesana juga. Tapi semoga bukan. Bukan virus seperti itu.

Saya coba kompres, tapi ternyata si suhu selain turun naik bikin rewel tengah malam. Karena gak punya stok parcet yang buat bayi, saya baru bisa kasi esok harinya. Arka lagi “maunya” sama mom nya, dan pas banget pap lagi ada kerjaan yang mana gak ada di rumah 12jam. Jadi pagi saya anter Arka sekolah sampai rumah pelukan lagi sama Kala, nanti jemput lagi, kasi makan Arka lalu pelukan lagi sama Kala.

Demam pun masih sama kepala, badan ya kadang kaki tapi signifikan memang kepala. Suhu dari 37,3-38,7. Gak perlu nunggu 38,5c karena Kala rewel sekali hanya mau digendong. Sedangkan Arka lihat begini tambah bikin “kesolehan” sendiri.

Pap sampai ke rumah sudah lelah, saya paham banget ini tapi badan saya pun sudah tidak bisa kompromi lagi. Jadi pas pap dapat tidur 2jam saya minta gantian saya tidur, karena besok masih harus bolak balik urus Arka dan jagain Kala. Awalnya bisa tidur lagi, tapi keesokan hari Kala gak mau sama papnya. Ada waktu saya akhirnya tidur setelah subuh lumayan ngecharge sebelum nganter Arka lagi.

Malam itu Kala tidur enak, gak kebangun nangis karena saya langsung sigap nyusuin. Tapi kepala ko tambah panas, ternyata suhunya tinggi sekali. Aduh saya mulai stress lagi, udah minta ampun terus sama Allah, kalau kami (saya dan pap) mungkin sedang ada selisih dan belum selesai (tapi alhamdulilah sedang baik-baik saja), atau ada janji ke Anak-anak yang belum terkabulkan, mungkin menyakiti orang lain atau karena kami lupa bersedekah.

Jadi demam Kala mulai naik kalau sudah waktunya minum obat, karena berjarak 4-6 jam kan. Kalau Arka pulang sekolah, Kala bisa lupa sama demamnya bercanda tertawa, tapi dia akan murung kalau Arka sekolah. Lucu ya.

Karena sudah hari ke 3, saya mesti cek Kala ke dokter kan? Alhamdulilah pas Arka libur sekolah karena gurunya ada pelatihan jadi bisa pagi-pagi ke RS biar pap nya bisa langsung ke studio kerja lagi.

Dsa biasa ada jam 10pagi sedangkan pap jam 10 mesti ada di studio, akhirnya pilih dokter paling pagi aja.

Dokter cek Kala semua, tidak sedang radang (karena memang tidak batpil), gigi pun masih jauh katanya (iya gigi Kala masih matic), dokter akhirnya beri rujukan untuk tes darah (lemes shay).

Yang bikin lemes itu pas di kasir, saya gak percaya harus mengeluarkan duit yang bagi kami (gak ada asuransi kantor karena memang bukan pegawai kantoran) besar. Uang yang kami bawa saja buat test lab nya aja masih kurang gimana mau bayar jasa dokter kan. Pas dicek ternyata dokter merujuk tes lengkap, tes darah, typus dan DB. Akhirnya ya mau gak mau minta tolong sama adik, dokter bilang mau ditungguin. Jadi saya diem lama di depan kasir sambil nunggu adik saya jalan ke Atm dari kantornya di Jakarta.

Selesai bayar (belum obat) kami langsung ke labotarium. Arka ngumpet, pap pegang Kala, saya menangis.

Sampai kami di tahap ini lagi, anak diambil darah, flash back kembali.

Menunggu hasil saya ke nursing room sambil gendong Kala yang pagi itu memang sudah lemas, pikiran kemana-mana membayangkan hasil, alhamdulilah dukungan banyak doa pun teriringi karena saya sempat update status. Kemudian saya menangis tanpa suara sejadi-jadinya sambil memeluk Kala. Hancur hati saya, patah hati. Bayi 10bulan sudah bertemu dengan suntikan buat diambil darah meski anaknya gak berontak tapi hati saya, ah sudahlah.

Hasil sudah ada saya buka, meski gak gitu ngerti tapi alhamdulilah Typus dan DB Kala negatif. Saya kembali ke ruangan suster ternyata dokternya sudah pulang (ah dok, kelaman ya saya shock di kasir jadi dokter gak mau nungguin saya). Suster menelfon dokter memberi tahu hasil lab dan diserahkan ke saya resep yang mesti ditebus. Iya ada bakteri di darah Kala mungkin virus. Dan dokternya memang sudah siapkan resep di buku kesehatan Kala.

Sambil nunggu obat, saya foto hasil lab kirim ke Tita (dokter mylaff aku), Tita bilang masih taraf aman memang tidak sesuai dengan hasil rujukan tapi tidak menjurus kemana-mana. Alhamdulilah.

Dapat antibiotik dan anti virus buat daya tahan tubuh, karena parcet nya saya sudah punya tidak saya tebus.

Tapi di rumah Kala masih demam saja, antibiotik sudah dikasi tapi suhu dia naik menjelang waktu diberi obat. Hari ke empat masih demam hari ke 5 saya berinisiatif ganti merk paracetamolnya, saya kasi 2 merk ke Tita dan Tita pilih sama kaya pilihan saya. Ke apotik beli, sabtu ke minggu Kala mulai segar dan alhamdulilah setelah hari ke 5 demam dia berangsur segar. Mungkin efek si parcet yang diganti juga yang warnanya mengingatkan saya akan thai tea nya d*md*m.

Jadi ingat ada jenis demam yang berlangsung 5 hari, tapi tes darah dll normal atau tidak membahayakan. Ya mungkin Kala termasuk seperti ini.

Sudah ya sayang, jangan sakit lagi, kembali semangat, kembali nafsu makan (yang hilang setelah mulai kosumsi obat AB), kembali ceria lagi.

Kala demam

Potty training Kala

Sudah? Baru sebatas BAB. Awalnya karena iseng, bawa ah ke kamar mandi duduk di situ, eh berhasil. Hari berikutnya berhasil, kemudian di PHP in hahaha.

Alarm doi ini masih banyak yang belum ngeuh yang akhirnya ya udah keluar duluan di pospak, hahaha. Ya kadang kalau kebangun jam 3 atau 4 pagi suka gak tega bawa-bawa dia ke kamar mandi kadang ya luluh biarin aja, kadang ngeluarinnya aja dia sambil merem, kasian. Hahaha. Kalau sudah jm 5 sih bawa aja uda kuat emaknya duduk nungguin.

Jadi Kala sukses pup di kamar mandi pas doi 8 bulan. Alhamdulilah.

Potty training Kala

Mari kita sukseskan program pemerintah untuk imunisasi MR

Pas ada ini langsung susun strategi buat Arka karena dia kan penakut, terakhir suntik tahun lalu, pasti uda lupa rasanya. MR ini campak dan rubbela, Arka campak sudah, MMR juga sudah tapi kok vaksin lagi. Anggap aja booster, tahun depan jadwal booster si MMR tapi kondisinya masih kosong di mana-mana, ya kenapa gak ikut program pemerintah yang oketa ini.

Vaksinnya di sekolah, beberapa kali on off  kondisi badannya sama batpil, pas mendekati hari H sibuk jaga makan sama kesehatan dia, masih batuk tapi jarang, ya selama gak demam kan? Lagi pula anaknya juga masih aktif. Pas hari nya banyak teman Arka yang gak masuk, pokoknya perubahan cuaca bikin tumbang satu persatu sama batpil dan demam, jadi pasti ganti-gantian gak masuk sekolah. Ya cuma disounding aja mau disuntik, sakit (kan emang sakit) sedikit abis itu ilang rasanya. Ketakutan tapi bisa dialihkan. Orang tua disuruh hadir tapi tak boleh menemani pas disuntik, urusan bu guru aja sama dokter.


Emaknya yang pada heboh pas anak-anak mulai dipanggil, sibuk dokumentasi, hahaha. Alhamdulilah aman, malamnya pun langsung loncat-loncatan.

Adiknya gimana? Bulan ini Kala 9bulan sedangkan program pemerintah hanya sampai september, galau sist hahaha. Pas ke posyandu awal bulan september umur masih 8 kan, pas anak-anak kembali jajan di dokter pun akhirnya ketemu dr Frecil, tanya dong eh di sana vaksin MR sudah habis, dianjurkan campak saja nanti 15bulan langsung MMR kaya Arka begitu beliau bilang. Oke lah.

Gak lama berselang beberapa hari ada posyandu kan, diberi tahu terakhir program di daerah sini itu tanggal 13-14 oktober. Wah langsung deh berusaha bikin Kala sehat yang mana lagi drop karena virus bolbal sama Arka. Tanggal 13 kebetulan mau ke Jakarta, udah minum obat tapi si dahak kayanya bandel banget, napas masih susah, bunyi dan si pilek pun aduhai, gak demam sih yang menurut kita bisa kali vaksin.

Datang ke puskesmas ditolak cyiin, pedih. Sudah terakhir program ditolak. Beklah disehatin dulu aja tar kalau emang kudu campak lanjut MMR ya tak apa-apa. Dengar info si campak udah ditarik sama pemerintah dan mau diganti sama MR bulan depan, masa sih? Tanya sepupu yang bidan eh bener. Di puskesmas dia pun sudah ditarik. Doanya semoga bukan wacana bulan depan sudah ada vaksinnya di puskesmas atau di bidan yang biasa Kala vaksin.

Rezeki emang beberapa hari lalu lihat postingan bidan sahabatku, vaksinnya tersedia, tapi tiap hari sabtu, pas banget pas pap kosong jadwalnya, langsung deh cuss.

Beres dua-duanya. Alhamdulilah.

Mari kita sukseskan program pemerintah untuk imunisasi MR

Pemulihan pasca operasi sectio yang ketiga plus steril

Oke cerita ini akan sedikit panjang, bersambung dari postingan sebelumnya. Saya masuk ke kamar sekitar jam 11 malam, dan seperti biasa nanti harus belajar miring. Susah itu susah hahaha. Pap sudah terlihat letih dan langsung tertidur di ubin, Arka sudah tidur dengan uti, saya melek tanpa rasa ngantuk sama sekali.

Dan rasa itu datang, rasa sakit. Perut terasa seperti ditarik-tarik dengan kencang, mulai berfikir bius sudah mulai hilang karena saya sudah bisa mengerakan telapak kaki saya, tapi ini sakitnya beda, sakit sekali.

Beberapa jam berlalu saya makin tak bisa tidur akhirnya laporan ke suster katanya diinfus sudah diberi anti nyeri dan inipun tak bereaksi apa-apa ke saya, dan yang saya lakukan kemudian menangis minta ampun ke Allah saking sakitnya dan saya ingin cuma tidur.

Pagi berlalu sakit belum kunjung hilang pada saat diseka suster memberi saya semacam koyo untuk ditempel di dada. Ini rekuesan saya sebelum tindakan ke dokter tapi kok baru diberi pagi bukan kemarin. Dan diinfokan baru 12 jam bereaksi, kray!

Pap saya suruh pulang buat liat kondisi Arka, tak apa tak ada yang jaga toh saya masih belum bisa bangun latihan miring kiri kanan sudah saya lakukan pas tak bisa tidur semalaman.

Mama datang diantar papa, nah kebetulan diresepi obat anti nyeri yang dimasukan ke dalam dubur. Anti nyeri lewat infus, koyo ditempel di dada dan si anti nyeri dimasukan ke dubur? Luar biasa ya hahahaha. Masih sakit? Masih.

Saya beranggapan ini mungkin efek si steril juga dan operasi yang diulang-ulang ditempat yang sama jadi rasanya aduhai.

Sekitar jam 9-10 Kala datang dari ruang bayi, dan saya belajar menyusui dengan cara miring. Alhamdulilah awal mengalami kesulitan kemudian lancar.

Rasa sakit berangsur hilang tapi rasa ngantuk tetap tidak datang. Sore pada saat jam besuk mulai berdatangan teman-teman. Rasa haru menghampiri karena rumah sakit ini pasti terasa jauh oleh mereka, mertua pun datang, alhamdulilah.

Pap datang dengan Arka tapi tetap Arka tidak bisa masuk, kangen banget ya Allah.

Nah perjuangan dimulai pada saat malam, karena saya menyusui dan di Rumah sakit ini kalau menyusui langsung bayi tidur dengan kita hanya diambil pada saat pagi untuk dimandikan dibekali pospak dan tisu basah itu juga pap yang beli di farmasi. 

Mulailah saya menyusui lebih sering tiap pindah ke kanan kiri saya minta tolong pap buat angkat Kala ke posisi yang saya inginkan.

Menjelang subuh dan Kala terus merengek minta susu dan saya yang merasa kepanasan ternyata Kala mengigil. Panggil suster kemudian Kala dibawa ke ruang bayi, alhamdulilah kemudian saya gak lama bisa tidur. 

Seharusnya kateter saya dibuka malam karena 24 jam setelah operasi tapi ini tidak dan karena saya mulai belajar duduk posisi kateter agak menusuk ke bagian vagina saya dan itu bikin gak nyaman. Pas subuh saya minta dicopot saja kateternya dan diberi tahu dalam waktu maksimal 2 jam saya sudah bisa buang air kecil di kamar mandi. 

Mulailah setengah jam posisi kasur saya minta ditinggikan sedikit demi sedikit hingga akhirnya di posisi duduk. Kemudian latihan duduk, turun kaki ke lantai dan jalan. 

Alhamdulilah di sini saya tidak menemukan kendala dalam waktu singkat saya sudah bisa duduk di kursi dan ke kamar mandi.

Hari itu hari sabtu berarti saya boleh pulang. Yeaaay.

Proses pulang pun tidak lama, setelah Dokter kandungan visit dan menganti perban anti air saya diijinkan pulang. Urus ini itu oleh pap tidak lama surat ijin pulang sudah keluar. Oia biaya yang keluar alhamdulilah hanya biaya steril, biaya lahir full cover.

Nah proses yang Kala rada membuat senewen, karena kebetulan hari sabtu DsA sedikit terlambat datang untuk visit sehingga proses urus ini itu bener-bener menunggu dokter visit plus mendekati tutup jam BPJS. Karena Kala sudah saya daftarkan BPJS juga kami tidak terkena biaya hanya biaya vaksin karena memang tidak dicover. Alhamdulilah kami pulang pada saat waktu malam hahaha.

Pelayanan Rumah Sakit Santosa dengan mengunakan fasilitas BPJS kami merasa terbantu sekali, tidak dibeda-bedakan dalam hal pelayanan dan respon dari para suster dan bidan pun cepat. Alhamdulilah. Kalau masalah sakit setelah operasi ya namanya tindakan di tempat yang sama berulang kali rasanya ya tidak seperti sewaktu pertama kali operasi. 

Pemulihan di rumah

Sesampai di rumah mulailah terasa semua, apalagi sudah mulai begadang. Ini foto tangan saya yang kemaren tidak sukses pada saat pasang infus karena kecil urat nadinya. Bengkak dan memar.

Baca info untuk mempercepat jahitan kering minum air rebusan daun binahong dan perbanyak makan yang protein tinggi. Disini selain air rebusan saya kosumsi putih telur yang direbus. Cukup membantu saya pun tak lama untuk beraktifitas karena badan sudah terasa enak.

Seminggu kemudian saya kontrol ke Rumah sakit, jaitan ok, di usg pun rahim bagus (oia kemaren pas operasi terasa lama selain karena steril ya sudah terjadi pelengketan dimana-mana tapi dokter bilang pelengketannya di otot, rahim saya bagus), perban dibuka, selesai. Kala pun kontrol ke DSA alhamdulilah naik 400gram setelah pas pulang turun 200gram.

Seminggu berlalu dan mulailah terasa sakit lagi ya karena kondisi saya mulai drop karena begadang, menyusui dalam posisi duduk yang  cukup lama dan mengawasi Arka yang mulai gemas sama Kala. Kalau sudah terasa sakit yang saya lakukan selain menangis ya tiduran aja gak turun kasur. Cerita sama teman yang melakukan hal sama kaya saya, sc ketiga dan steril dibilang proses pemulihan memang agak lama sekitar 2 mingguan. What? Ok inhale exhale.

Nah sekarang sudah hampir sebulan apa masih suka sakit? Masih. Apalagi itu kalau menyusui duduk pada saat malam yang saya lakukan berulang-ulang pasti jahitan mulai terasa sakit.

Bismillah saja meski saya belum boleh angkat-angkat berat, naik tangga tapi tetap karena kondisi yang mengharuskan saya lakukan karena tidak ada yang bisa bantu rasa itu datang lagi. Dan masih bisa ditolerir karena lihat Kala yang sehat, Arka juga sehat dan semoga saya dan suami apalagi mama diberi kesehatan terus. Aamiin.

Pemulihan pasca operasi sectio yang ketiga plus steril

Cerita kelahiran Kalasenja

3 hari sebelum Kala lahir saya sempatkan periksa ke Dr. Leri dulu. Reaksi pertama bertemu saya beliau hanya berucap, “ibu kok masih berani ke sini bukannya sudah periksa ke Santosa?”. Hahahaha. Jawaban saya pun tak kalah santai “belum dapat rujukan dok, makanya ke sini dulu”.

Usia kehamilan saya pada saat diperiksa itu 36minggu lebih berapa hari, itungan saya sih 2 hari lagi sudah 37 tapi kan hasil USG selalu beda tipis. Semua alhamdulilah baik, bayi sudah 2,9 hampir 3 Kg. Terakhir cek ke beliau di usia 32-33 itu baru 1,9 kg dan saya dengan semangat mengejar minimal 3 Kg karena Arka lahir 3,1 kg. Mengeluhlah saya sudah sering mulas, pegal di sekitar selangkangan dll. Dr. Leri menganjurkan segera ke faskes biar minta rujukan dan segera diperiksa di Santosa buat menentukan tanggal lahir. 

Hari kamis, 5 Januari 2017

Faskes ramai sekali dan tergolong lama mana kali ini saya ditemani pap dan Arka, biasanya saya pergi sendiri naek angkot. Setelah mengeluh dengan keluhan yang sama akhirnya petugas medis memberi saya rujukan, alhamdulilah.


Mengunakan BPJS sebenarnya mudah hanya kita harus mengikuti prosedur yang kadang panjang. Setelah dapat rujukan saya langsung meluncur ke Rumah sakit Santosa Kopo. Mendaftar ke antrian BPJS dengan membawa foto kopi surat rujukan, ktp, kk, kartu bpjs semua 3 lembar (untuk pendaftaraan pertama selanjutnya hanya 2 lembar setiap dokumen).
Setelah urusan pendaftaran selesai dirujuk ke poli kandungan iseng bertanya dokternya ada siapa aja, pas ada nama Dr. Yanne dan diijinkan memilih, saya pilih beliau karena kebetulan Dr. Leri juga rekomenin beliau. Karena jadwalnya siang akhirnya kami makan siang dulu.

Setelah selesai makan siang kami kembali ke Rumah Sakit dan tiba saatnya saya dipanggil dan sendiri karena lupa Arka sama pap sedang kemana waktu itu, saya cuman berpesan langsung masuk aja kalau lihat saya gak ada di bangku antrian.

Dokternya masih muda, saya cerita saja tentang kehamilan keempat saya ini, kemudian di usg beliau bilang kalau semua sudah siap, bayi semua oke tapi posisi kepala si bayi rada miring ke panggul ini mungkin yang bikin saya ngilu semalaman. Dan dokter pun kasi opsi mau kapan tindakan karena jangan sampai mulas banget (saya cerita sudah sering mulas) karena nanti bisa robek spontan (vagina). Mau hari ini apa besok? Saya shock. Kalau hari ini bisa lewat poli kalau besok harus lewat igd. Saya hanya bertanya kalau masuk hari ini bisa pulang kapan dokter menjawab sabtu. Oke boleh dok, saya pilih hari itu juga dengan alasan pap ada kerjaan hari minggu. Pap dan Arka masuk ke ruangan terus saya bilang mau operasi nanti malam gimana? Pap? Sama kaget hahahaha. Akhirnya keputusan kembali di saya dan saya mengiyakan. 

Selain melakukan operasi sc yang ketiga dimana memang “jatah sc” itu hanya 3x saya berencana melakukan steril. Kenapa? Alasan pertama karena jatah sudah habis, bisa sih mau 4x juga selama kondisi rahim dan ketebalannya bagus tapi tahun ini usia saya sudah 35 berarti masuk ke usia rawan kalau melahirkan terus mau sc ke 4x gitu, ah bayangin hamil dan pemulihannya saya gak berani. Dan mau kontrasepsi terus padahal jatah sudah habis buat apa juga makanya saya bulat memutuskan ingin steril. Tapi tetap lihat kondisi “dalam” saya bisa tidak dilakukan tindakan steril. Karena steril juga tidak dijamin oleh BPJS jadi saya harus urus sendiri biayanya juga.

Setelah urus administrasi, rincian biaya dan alhamdulilah ada kamar saya disuruh test lab. Karena semua serba dadakan akhirnya minta pap buat pulang antar Arka dan jemput mama. Saya ke labrotarium sendiri sampai balik ke poli untuk pasang infus memakai baju operasi.


Sore mama, pap dan Arka datang, wajah mama tegang. Iya semua gak ada yang sangka saya langsung tindakan, papa juga masih di luar kota tapi malam itu sudah sampai Bandung. 

Saya masuk ke kamar inap yang ternyata usia 12 tahun ke bawah tidak diperkenankan masuk, akhirnya Arka sama pap di luar, sedih. 

Setelah di kamar suster melakukan test alergi, kedua kali melakukan ini sebelumnya pas melahirkan Arka. Rasanya? Sakit gila!


Jam 7 malam saya sudah dijemput menuju ruang operasi, rasanya tak sabar dan deg-degan semua campur aduk. Arka sempat bingung mamihnya mau kemana, saya cuman minta dicium dan dipeluk dan didoain semuanya lancar, minta maaf ke mama papa dan telpon mertua juga.

Di ruang sebelum ruang operasi saya lumayan menunggu lama, dokter anestesi sempat mengajak ngobrol, di sini saya merasa diperhatikan padahal saya memakai BPJS tapi semua care, saya cerita riwayat sc terakhir saya yang berujung anestesi tidak mempan dan saya merasakan kesakitan luar biasa pada saat melahirkan Arka dan saya hanya bilang “dok, pastikan saya sudah dibius sewaktu operasi dilakukan ya?”. Dokter mengiyakan.

Lama sekali tak dipanggil pas petugas menelpon dsog nya beliau masih di jalan, hahahaa lupa kayanya saya mau tindakan hari ini.

Singkat cerita saya melakukan operasi dengan smooth lancar semua, anestesi dengan beberapa titik yang saya nikmati hingga proses yang saya bilang “ko lama banget ya ini padahal bayi uda keluar”.

Kembali ke ruangan sebelumnya sudah ada pap dan cerita Arka sudah pulang dengan mama papa, sempat wa an sama papa katanya Arka sudah tidur, gak lama mama sms bilang Arka menangis dan minta kembali ke RS sekarang juga karena gak mau tidur sama uti sama kungnya. Duh, pengen nangis kali kedua saya tinggalin dia tidur tanpa saya di samping seperti waktu saya tindakan kuret dan ini akan lebih lama. Pap liatin foto Kala saya cuman bisa menangis. Saya sempat cium pas di ruang operasi tapi tak sempat IMD.


Kalasenja, lahir tanggal 5 Januari 2017 pukul 21.23 dengan berat 2,7kg dan panjang 47cm.

Ternyata dari usg 3 kilo Kala lahir dengan berat 2,7 tergolong mungil karena Queena aja 2,8 kg waktu lahir. Alhamdulilah sehat semua.

Kalasenja Zinan Mufiz. Anak kedua laki-laki yang gemar menolong, begitu arti namanya. Kenapa dikasi nama senja padahal lahir malam? Saya kadung suka dengan namanya dan berharap bisa lahir sore menjelang malam, kesampaian cuman meleset beberapa jam, hahaha.

Kala? Seperti Arka saya mencari nama yang orang lain tak susah menulisnya tanpa dobel huruf tanpa ejaan yang harus diulang. Karena nama saya saja sudah sering salah ejaan masa anak saya ngalamin lagi repotnya kalau salah ejaan. Simpel kan alasannya.

Queena ke Arka, Arka ke Kala. Queenarkala.

Cerita kelahiran Kalasenja