Pemulihan pasca operasi sectio yang ketiga plus steril

Oke cerita ini akan sedikit panjang, bersambung dari postingan sebelumnya. Saya masuk ke kamar sekitar jam 11 malam, dan seperti biasa nanti harus belajar miring. Susah itu susah hahaha. Pap sudah terlihat letih dan langsung tertidur di ubin, Arka sudah tidur dengan uti, saya melek tanpa rasa ngantuk sama sekali.

Dan rasa itu datang, rasa sakit. Perut terasa seperti ditarik-tarik dengan kencang, mulai berfikir bius sudah mulai hilang karena saya sudah bisa mengerakan telapak kaki saya, tapi ini sakitnya beda, sakit sekali.

Beberapa jam berlalu saya makin tak bisa tidur akhirnya laporan ke suster katanya diinfus sudah diberi anti nyeri dan inipun tak bereaksi apa-apa ke saya, dan yang saya lakukan kemudian menangis minta ampun ke Allah saking sakitnya dan saya ingin cuma tidur.

Pagi berlalu sakit belum kunjung hilang pada saat diseka suster memberi saya semacam koyo untuk ditempel di dada. Ini rekuesan saya sebelum tindakan ke dokter tapi kok baru diberi pagi bukan kemarin. Dan diinfokan baru 12 jam bereaksi, kray!

Pap saya suruh pulang buat liat kondisi Arka, tak apa tak ada yang jaga toh saya masih belum bisa bangun latihan miring kiri kanan sudah saya lakukan pas tak bisa tidur semalaman.

Mama datang diantar papa, nah kebetulan diresepi obat anti nyeri yang dimasukan ke dalam dubur. Anti nyeri lewat infus, koyo ditempel di dada dan si anti nyeri dimasukan ke dubur? Luar biasa ya hahahaha. Masih sakit? Masih.

Saya beranggapan ini mungkin efek si steril juga dan operasi yang diulang-ulang ditempat yang sama jadi rasanya aduhai.

Sekitar jam 9-10 Kala datang dari ruang bayi, dan saya belajar menyusui dengan cara miring. Alhamdulilah awal mengalami kesulitan kemudian lancar.

Rasa sakit berangsur hilang tapi rasa ngantuk tetap tidak datang. Sore pada saat jam besuk mulai berdatangan teman-teman. Rasa haru menghampiri karena rumah sakit ini pasti terasa jauh oleh mereka, mertua pun datang, alhamdulilah.

Pap datang dengan Arka tapi tetap Arka tidak bisa masuk, kangen banget ya Allah.

Nah perjuangan dimulai pada saat malam, karena saya menyusui dan di Rumah sakit ini kalau menyusui langsung bayi tidur dengan kita hanya diambil pada saat pagi untuk dimandikan dibekali pospak dan tisu basah itu juga pap yang beli di farmasi. 

Mulailah saya menyusui lebih sering tiap pindah ke kanan kiri saya minta tolong pap buat angkat Kala ke posisi yang saya inginkan.

Menjelang subuh dan Kala terus merengek minta susu dan saya yang merasa kepanasan ternyata Kala mengigil. Panggil suster kemudian Kala dibawa ke ruang bayi, alhamdulilah kemudian saya gak lama bisa tidur. 

Seharusnya kateter saya dibuka malam karena 24 jam setelah operasi tapi ini tidak dan karena saya mulai belajar duduk posisi kateter agak menusuk ke bagian vagina saya dan itu bikin gak nyaman. Pas subuh saya minta dicopot saja kateternya dan diberi tahu dalam waktu maksimal 2 jam saya sudah bisa buang air kecil di kamar mandi. 

Mulailah setengah jam posisi kasur saya minta ditinggikan sedikit demi sedikit hingga akhirnya di posisi duduk. Kemudian latihan duduk, turun kaki ke lantai dan jalan. 

Alhamdulilah di sini saya tidak menemukan kendala dalam waktu singkat saya sudah bisa duduk di kursi dan ke kamar mandi.

Hari itu hari sabtu berarti saya boleh pulang. Yeaaay.

Proses pulang pun tidak lama, setelah Dokter kandungan visit dan menganti perban anti air saya diijinkan pulang. Urus ini itu oleh pap tidak lama surat ijin pulang sudah keluar. Oia biaya yang keluar alhamdulilah hanya biaya steril, biaya lahir full cover.

Nah proses yang Kala rada membuat senewen, karena kebetulan hari sabtu DsA sedikit terlambat datang untuk visit sehingga proses urus ini itu bener-bener menunggu dokter visit plus mendekati tutup jam BPJS. Karena Kala sudah saya daftarkan BPJS juga kami tidak terkena biaya hanya biaya vaksin karena memang tidak dicover. Alhamdulilah kami pulang pada saat waktu malam hahaha.

Pelayanan Rumah Sakit Santosa dengan mengunakan fasilitas BPJS kami merasa terbantu sekali, tidak dibeda-bedakan dalam hal pelayanan dan respon dari para suster dan bidan pun cepat. Alhamdulilah. Kalau masalah sakit setelah operasi ya namanya tindakan di tempat yang sama berulang kali rasanya ya tidak seperti sewaktu pertama kali operasi. 

Pemulihan di rumah

Sesampai di rumah mulailah terasa semua, apalagi sudah mulai begadang. Ini foto tangan saya yang kemaren tidak sukses pada saat pasang infus karena kecil urat nadinya. Bengkak dan memar.

Baca info untuk mempercepat jahitan kering minum air rebusan daun binahong dan perbanyak makan yang protein tinggi. Disini selain air rebusan saya kosumsi putih telur yang direbus. Cukup membantu saya pun tak lama untuk beraktifitas karena badan sudah terasa enak.

Seminggu kemudian saya kontrol ke Rumah sakit, jaitan ok, di usg pun rahim bagus (oia kemaren pas operasi terasa lama selain karena steril ya sudah terjadi pelengketan dimana-mana tapi dokter bilang pelengketannya di otot, rahim saya bagus), perban dibuka, selesai. Kala pun kontrol ke DSA alhamdulilah naik 400gram setelah pas pulang turun 200gram.

Seminggu berlalu dan mulailah terasa sakit lagi ya karena kondisi saya mulai drop karena begadang, menyusui dalam posisi duduk yang  cukup lama dan mengawasi Arka yang mulai gemas sama Kala. Kalau sudah terasa sakit yang saya lakukan selain menangis ya tiduran aja gak turun kasur. Cerita sama teman yang melakukan hal sama kaya saya, sc ketiga dan steril dibilang proses pemulihan memang agak lama sekitar 2 mingguan. What? Ok inhale exhale.

Nah sekarang sudah hampir sebulan apa masih suka sakit? Masih. Apalagi itu kalau menyusui duduk pada saat malam yang saya lakukan berulang-ulang pasti jahitan mulai terasa sakit.

Bismillah saja meski saya belum boleh angkat-angkat berat, naik tangga tapi tetap karena kondisi yang mengharuskan saya lakukan karena tidak ada yang bisa bantu rasa itu datang lagi. Dan masih bisa ditolerir karena lihat Kala yang sehat, Arka juga sehat dan semoga saya dan suami apalagi mama diberi kesehatan terus. Aamiin.

Advertisements
Pemulihan pasca operasi sectio yang ketiga plus steril

Cerita kelahiran Kalasenja

3 hari sebelum Kala lahir saya sempatkan periksa ke Dr. Leri dulu. Reaksi pertama bertemu saya beliau hanya berucap, “ibu kok masih berani ke sini bukannya sudah periksa ke Santosa?”. Hahahaha. Jawaban saya pun tak kalah santai “belum dapat rujukan dok, makanya ke sini dulu”.

Usia kehamilan saya pada saat diperiksa itu 36minggu lebih berapa hari, itungan saya sih 2 hari lagi sudah 37 tapi kan hasil USG selalu beda tipis. Semua alhamdulilah baik, bayi sudah 2,9 hampir 3 Kg. Terakhir cek ke beliau di usia 32-33 itu baru 1,9 kg dan saya dengan semangat mengejar minimal 3 Kg karena Arka lahir 3,1 kg. Mengeluhlah saya sudah sering mulas, pegal di sekitar selangkangan dll. Dr. Leri menganjurkan segera ke faskes biar minta rujukan dan segera diperiksa di Santosa buat menentukan tanggal lahir. 

Hari kamis, 5 Januari 2017

Faskes ramai sekali dan tergolong lama mana kali ini saya ditemani pap dan Arka, biasanya saya pergi sendiri naek angkot. Setelah mengeluh dengan keluhan yang sama akhirnya petugas medis memberi saya rujukan, alhamdulilah.


Mengunakan BPJS sebenarnya mudah hanya kita harus mengikuti prosedur yang kadang panjang. Setelah dapat rujukan saya langsung meluncur ke Rumah sakit Santosa Kopo. Mendaftar ke antrian BPJS dengan membawa foto kopi surat rujukan, ktp, kk, kartu bpjs semua 3 lembar (untuk pendaftaraan pertama selanjutnya hanya 2 lembar setiap dokumen).
Setelah urusan pendaftaran selesai dirujuk ke poli kandungan iseng bertanya dokternya ada siapa aja, pas ada nama Dr. Yanne dan diijinkan memilih, saya pilih beliau karena kebetulan Dr. Leri juga rekomenin beliau. Karena jadwalnya siang akhirnya kami makan siang dulu.

Setelah selesai makan siang kami kembali ke Rumah Sakit dan tiba saatnya saya dipanggil dan sendiri karena lupa Arka sama pap sedang kemana waktu itu, saya cuman berpesan langsung masuk aja kalau lihat saya gak ada di bangku antrian.

Dokternya masih muda, saya cerita saja tentang kehamilan keempat saya ini, kemudian di usg beliau bilang kalau semua sudah siap, bayi semua oke tapi posisi kepala si bayi rada miring ke panggul ini mungkin yang bikin saya ngilu semalaman. Dan dokter pun kasi opsi mau kapan tindakan karena jangan sampai mulas banget (saya cerita sudah sering mulas) karena nanti bisa robek spontan (vagina). Mau hari ini apa besok? Saya shock. Kalau hari ini bisa lewat poli kalau besok harus lewat igd. Saya hanya bertanya kalau masuk hari ini bisa pulang kapan dokter menjawab sabtu. Oke boleh dok, saya pilih hari itu juga dengan alasan pap ada kerjaan hari minggu. Pap dan Arka masuk ke ruangan terus saya bilang mau operasi nanti malam gimana? Pap? Sama kaget hahahaha. Akhirnya keputusan kembali di saya dan saya mengiyakan. 

Selain melakukan operasi sc yang ketiga dimana memang “jatah sc” itu hanya 3x saya berencana melakukan steril. Kenapa? Alasan pertama karena jatah sudah habis, bisa sih mau 4x juga selama kondisi rahim dan ketebalannya bagus tapi tahun ini usia saya sudah 35 berarti masuk ke usia rawan kalau melahirkan terus mau sc ke 4x gitu, ah bayangin hamil dan pemulihannya saya gak berani. Dan mau kontrasepsi terus padahal jatah sudah habis buat apa juga makanya saya bulat memutuskan ingin steril. Tapi tetap lihat kondisi “dalam” saya bisa tidak dilakukan tindakan steril. Karena steril juga tidak dijamin oleh BPJS jadi saya harus urus sendiri biayanya juga.

Setelah urus administrasi, rincian biaya dan alhamdulilah ada kamar saya disuruh test lab. Karena semua serba dadakan akhirnya minta pap buat pulang antar Arka dan jemput mama. Saya ke labrotarium sendiri sampai balik ke poli untuk pasang infus memakai baju operasi.


Sore mama, pap dan Arka datang, wajah mama tegang. Iya semua gak ada yang sangka saya langsung tindakan, papa juga masih di luar kota tapi malam itu sudah sampai Bandung. 

Saya masuk ke kamar inap yang ternyata usia 12 tahun ke bawah tidak diperkenankan masuk, akhirnya Arka sama pap di luar, sedih. 

Setelah di kamar suster melakukan test alergi, kedua kali melakukan ini sebelumnya pas melahirkan Arka. Rasanya? Sakit gila!


Jam 7 malam saya sudah dijemput menuju ruang operasi, rasanya tak sabar dan deg-degan semua campur aduk. Arka sempat bingung mamihnya mau kemana, saya cuman minta dicium dan dipeluk dan didoain semuanya lancar, minta maaf ke mama papa dan telpon mertua juga.

Di ruang sebelum ruang operasi saya lumayan menunggu lama, dokter anestesi sempat mengajak ngobrol, di sini saya merasa diperhatikan padahal saya memakai BPJS tapi semua care, saya cerita riwayat sc terakhir saya yang berujung anestesi tidak mempan dan saya merasakan kesakitan luar biasa pada saat melahirkan Arka dan saya hanya bilang “dok, pastikan saya sudah dibius sewaktu operasi dilakukan ya?”. Dokter mengiyakan.

Lama sekali tak dipanggil pas petugas menelpon dsog nya beliau masih di jalan, hahahaa lupa kayanya saya mau tindakan hari ini.

Singkat cerita saya melakukan operasi dengan smooth lancar semua, anestesi dengan beberapa titik yang saya nikmati hingga proses yang saya bilang “ko lama banget ya ini padahal bayi uda keluar”.

Kembali ke ruangan sebelumnya sudah ada pap dan cerita Arka sudah pulang dengan mama papa, sempat wa an sama papa katanya Arka sudah tidur, gak lama mama sms bilang Arka menangis dan minta kembali ke RS sekarang juga karena gak mau tidur sama uti sama kungnya. Duh, pengen nangis kali kedua saya tinggalin dia tidur tanpa saya di samping seperti waktu saya tindakan kuret dan ini akan lebih lama. Pap liatin foto Kala saya cuman bisa menangis. Saya sempat cium pas di ruang operasi tapi tak sempat IMD.


Kalasenja, lahir tanggal 5 Januari 2017 pukul 21.23 dengan berat 2,7kg dan panjang 47cm.

Ternyata dari usg 3 kilo Kala lahir dengan berat 2,7 tergolong mungil karena Queena aja 2,8 kg waktu lahir. Alhamdulilah sehat semua.

Kalasenja Zinan Mufiz. Anak kedua laki-laki yang gemar menolong, begitu arti namanya. Kenapa dikasi nama senja padahal lahir malam? Saya kadung suka dengan namanya dan berharap bisa lahir sore menjelang malam, kesampaian cuman meleset beberapa jam, hahaha.

Kala? Seperti Arka saya mencari nama yang orang lain tak susah menulisnya tanpa dobel huruf tanpa ejaan yang harus diulang. Karena nama saya saja sudah sering salah ejaan masa anak saya ngalamin lagi repotnya kalau salah ejaan. Simpel kan alasannya.

Queena ke Arka, Arka ke Kala. Queenarkala.

Cerita kelahiran Kalasenja