Pasca lahiran part 2

Lagi rame di social media isi quesioner tentang cerita anak2 dari hamil sampai lahir. Gak tau awalnya gimana ada yang all about your baby first born ada yang Alla about your babies born. Ya iseng ikutan tapi gak mungkin anak pertama aja kan, semuanya biar adil.

ALL ABOUT YOUR BABIES BORN 👶

1. Epidural? No . Sc itu spinal kan ya? Eh apa epidural? 😂

2. Father in the room? No

3. Induced? No

4. Normal? No

SC semua karena minus mata diatas 9 dan retina yg uda ga oke kondisinya

5. Due Date? 

Queena : 25 nov 2010

Arka : 12 April 2013

Kala : 25 Januari 2017

6. Birth Date? 

Queena : 10 November 2010

Arka : 4 April 2013

Kala : 5 Januari 2017

7. Morning sickness? 

Queena sampai sebelum lahiran

Arka masuk 3 bulan stop

Kala masuk 5 bulan stop

8. Cravings? 
Queena : sepatu converse (berujung gak dipake karena sempit)

Arka : mie ayam kampung

Kala : cilok, cimol, cakue

9. Kilos gained? 
Queena : 9 kg

Arka : 11 kg

Kala : 6 kg

10. Sex of the baby? 
Perempuan

Laki

Laki

11. Place you gave birth : 
Rs Kartika Pulo mas Jkt

Rsia Tambak Jkt

Rs santosa kopo

12. Hours in labor room? 
Sejam an lah, 15 menit keluar bayi.

Queena : smooth

Arka : epidural ga mempan jadi merasakan pas dibelek, jerit2an di ruang operasi tapi berhasil sampe beres operasi sambil nangis sm istigfar

Kala: Rada lama karena sekalian steril

13. Baby’s weight? 
Queena 2,8 kg

Arka 3,1 kg

Kala 2,7 kg

14. Baby’s Name? 
Fathisya Queena M

Arkananta Naufal M

Kalasenja zinan M

15. How old is your baby today?
Queena (Almarhumah)

Arka 4th

Kala 4 bulan

16. Most memorable event during pregnancy? 
Queena : Masih kerja ditempatin di ruko kantor cabangnya yg kamar mandi dilante bawah, setiap hari bisa muntah sampai 5x dikantor turun naik buat muntah.

Arka: Trimester awal selalu nangis tiap hari karena keingetan Queena (Queena wafat mei, juni lepas iud, Juli haid terakhir)

Kala: masuk bulan ke 5 dikasi hormon yang bikin badan penuh bekas luka karena gatal sebadan2 ampe ke dokter kulit, ilang masuk bulan ke 7 tapi bekasnya gak ilang sampai sekarang. Dan lahiran di 36w setelah dapat rujukan dari puskesmas malamnya lgs tindakan karena sering mules dan posisi kepala bayi yg miring.

17. Who is the obgyn? 

Queena & Arka : Bidan Setyanah di Utan kayu mau lahir rujuk RS buat operasi

Kala: Dr Leri (graha bunda) dan bidan2 di puskemas kopo, Dr Yane di Santosa Kopo

Come on mamas! Let’s hear your story! Copy and paste. Change my answers to yours.

❤️❤️❤️❤️


Gegara ini keingetan belum nulis pasca lahiran yang dialami dari bulan Feb – April. Jadi 40 hari setelah lahiran dokter sempat berpesan sewaktu kontrol seminggu pasca lahiran “bu kalau ada benang dibiarin aja ya nanti menyatu ke kulit”. Nah awalnya dari sini nih, ada semacam simpul di tengah jahitan operasi yang hampir menyatu dengan kulit tapi kalau dipake duduk pasti sakit. Dicek lah sama temen saya yang kebetulan dokter, selama ini juga selalu konsul sama dia. Akhirnya pas lagi arisan dia bawa peralatan medisnya dan terjadilah operasi kecil (biar drama) pemotongan si benang operasi terus dicabut dari kulit. Jangan tanya ya sakitnya kaya apa. Setelah itu rasanya ya enak gak ada penghalang. Tak lupa dibekali Nacl dan salep antibiotik, pesannya jangan lupa sering dibersihkan terus dikasi betadine.

Akhir bulan Februari mulailah terjadi yang bikin saya parno, di sekitar jahitan saya mengeluarkan darah. Memang sebelumnya terasa sakit dan perih pas sengaja diraba ya itu ada darah. Lapor teman disuruh bersihin kasi betadine lagi. Darah pun berhenti. Bulan Maret terjadi lagi, ini pasca ditinggal pap tour 10hari dan mama yang harus ke Jakarta karena adik sakit Cacar. Ya karena memang belum pulih benar, urus anak 2 dan rumah membuat si darah kembali ada dan di 2 titik. Inget banget saya itu di atas jahitan. Setelah pap pulang saya memutuskan kembali ke Rumah Sakit tanpa rujukan karena surat rujukan berlaku 1 bulan saja. Setelah curhat ini itu Dsog cerita “karena ibu sudah 3x sc benangnya gak bisa benang biasa. Kalau benang biasa sebulan pemulihan juga bisa jadi saya kasi yang bagus tapi pemulihannya lama sekitar 3 bulan. Metabolisme di usia ibu pun mempengaruhi cepat atau tidaknya jahitan di dalam”. 

3 bulan cyin, ini sebulan lebih keluar darah ampe 2x. Beliau bilang ini bukan di bekas jahitan tapi di atas di lapisan perut. Efek 3x sc dan saya punya bakat keloid jadi beliau putuskan untuk buang keloid dan ambil jaringan perut baru. Jadi darah ini keluar kaya jerawat gitu di perut ya mungkin karena saya kurang bersih atau lembab karena termasuk lipatan.

Beliau bilang hasil jahitan bagus dan saya bilang kok kaya ada yang nusuk ya benangnya mungkin? Dan dokter pun melakukan tindakan. Kembali saya merasakan dicabut benang dari kulit perut tapi yang ini lebih sakit dari yang pertama. Di ruang dokter pun saya teriak-teriak.

Diresepin salep anti lengket tapi pas coba tebus ternyata harganya gilani hahahaha. Jadi saya gak tebus. Tindakan potong benang dan cabut juga lumayan biayanya.

Seminggu pasca itu sudah tak sakit lagi kalau duduk, iseng meraba malah ada benang panjang keluar dari jahitan. Ampe terucap “ya Allah apalagi sih ini”, mau balik lagi males ya, tar tindakan lagi duitnya juga gak sedikit. Akhirnya ngikutin saran temen tetap dibersihkan pakai betadine dan diberi salep anti biotik versi generik. Beberapa hari kemudian iseng raba ternyata ada 2 benang yang keluar ya kalau dirasa sekitar 3-5cm an gitu. Jadi di posisi kanan kiri ada benang menjulur keluar dari jahitan.

Stres. 

Akhirnya pertimbangan tindakan sebelumnya terus mikir rada jauh prepare lah ini itu. Rencananya mau ke puskesmas laporan ini jadi kalau memang ada tindakan besar kan bisa dapat rujukan lewat BPJS. Berangkat pagi-pagi, rombongan diajak semua sampai saya bawa pompa dan botol jaga-jaga saya mesti menginap karena tindakan. Pokoknya pikiran udah kemana-mana deh.

Pagi ke sana, dicek ini itu terus bidannya inisiatif manggil dokter jaga di puskesmas buat lihat benang yang keluar ini.

“Gakpapa ini bu? Dipotong aja ya”

What?

Ya udah bener dipotong doang si benang yang keluar. Dan kata mereka semua jahitan saya bagus. Benang di sebelah kiri tiba-tiba bisa diambil. “Ini lepas sendiri bu jadi gak papa”.

Ya udah gitu aja. Dipotong benang kanan yang kiri lepas sendiri. Gak perlu ke RS gak perlu dikasi rujukan. Pulang.

Ternyata gak sampai situ. Awal April si benang keluar lagi, di tempat yang dipotong kemarin si benangnya. Udah males kan ya? Pusing, hopeless. Ya uda saya biarin, cuma tiap habis mandi dikeringin kasi betadine. 

Adakali seminggu pas iseng saya raba, eh si benang rontok.


Dan setelah itu sebulan kemudian gak ada cerita lagi ada benang keluar, semua baik-baik saja sampai sekarang. Alhamdulilah. Mungkin benar kata dokternya pemulihan memakan waktu 3 bulan. 
Pesan kepada wanita yang harus melahirkan secara sectio berturut-turut? Jangan centil, jangan kebanyakan tingkah. Sadari diri jangan memaksakan melakukan semua meski terpaksa. Karena di dalam badan kita ada jaringan yang sedang masa pemulihan.

Advertisements
Pasca lahiran part 2

Cerita kelahiran Kalasenja

3 hari sebelum Kala lahir saya sempatkan periksa ke Dr. Leri dulu. Reaksi pertama bertemu saya beliau hanya berucap, “ibu kok masih berani ke sini bukannya sudah periksa ke Santosa?”. Hahahaha. Jawaban saya pun tak kalah santai “belum dapat rujukan dok, makanya ke sini dulu”.

Usia kehamilan saya pada saat diperiksa itu 36minggu lebih berapa hari, itungan saya sih 2 hari lagi sudah 37 tapi kan hasil USG selalu beda tipis. Semua alhamdulilah baik, bayi sudah 2,9 hampir 3 Kg. Terakhir cek ke beliau di usia 32-33 itu baru 1,9 kg dan saya dengan semangat mengejar minimal 3 Kg karena Arka lahir 3,1 kg. Mengeluhlah saya sudah sering mulas, pegal di sekitar selangkangan dll. Dr. Leri menganjurkan segera ke faskes biar minta rujukan dan segera diperiksa di Santosa buat menentukan tanggal lahir. 

Hari kamis, 5 Januari 2017

Faskes ramai sekali dan tergolong lama mana kali ini saya ditemani pap dan Arka, biasanya saya pergi sendiri naek angkot. Setelah mengeluh dengan keluhan yang sama akhirnya petugas medis memberi saya rujukan, alhamdulilah.


Mengunakan BPJS sebenarnya mudah hanya kita harus mengikuti prosedur yang kadang panjang. Setelah dapat rujukan saya langsung meluncur ke Rumah sakit Santosa Kopo. Mendaftar ke antrian BPJS dengan membawa foto kopi surat rujukan, ktp, kk, kartu bpjs semua 3 lembar (untuk pendaftaraan pertama selanjutnya hanya 2 lembar setiap dokumen).
Setelah urusan pendaftaran selesai dirujuk ke poli kandungan iseng bertanya dokternya ada siapa aja, pas ada nama Dr. Yanne dan diijinkan memilih, saya pilih beliau karena kebetulan Dr. Leri juga rekomenin beliau. Karena jadwalnya siang akhirnya kami makan siang dulu.

Setelah selesai makan siang kami kembali ke Rumah Sakit dan tiba saatnya saya dipanggil dan sendiri karena lupa Arka sama pap sedang kemana waktu itu, saya cuman berpesan langsung masuk aja kalau lihat saya gak ada di bangku antrian.

Dokternya masih muda, saya cerita saja tentang kehamilan keempat saya ini, kemudian di usg beliau bilang kalau semua sudah siap, bayi semua oke tapi posisi kepala si bayi rada miring ke panggul ini mungkin yang bikin saya ngilu semalaman. Dan dokter pun kasi opsi mau kapan tindakan karena jangan sampai mulas banget (saya cerita sudah sering mulas) karena nanti bisa robek spontan (vagina). Mau hari ini apa besok? Saya shock. Kalau hari ini bisa lewat poli kalau besok harus lewat igd. Saya hanya bertanya kalau masuk hari ini bisa pulang kapan dokter menjawab sabtu. Oke boleh dok, saya pilih hari itu juga dengan alasan pap ada kerjaan hari minggu. Pap dan Arka masuk ke ruangan terus saya bilang mau operasi nanti malam gimana? Pap? Sama kaget hahahaha. Akhirnya keputusan kembali di saya dan saya mengiyakan. 

Selain melakukan operasi sc yang ketiga dimana memang “jatah sc” itu hanya 3x saya berencana melakukan steril. Kenapa? Alasan pertama karena jatah sudah habis, bisa sih mau 4x juga selama kondisi rahim dan ketebalannya bagus tapi tahun ini usia saya sudah 35 berarti masuk ke usia rawan kalau melahirkan terus mau sc ke 4x gitu, ah bayangin hamil dan pemulihannya saya gak berani. Dan mau kontrasepsi terus padahal jatah sudah habis buat apa juga makanya saya bulat memutuskan ingin steril. Tapi tetap lihat kondisi “dalam” saya bisa tidak dilakukan tindakan steril. Karena steril juga tidak dijamin oleh BPJS jadi saya harus urus sendiri biayanya juga.

Setelah urus administrasi, rincian biaya dan alhamdulilah ada kamar saya disuruh test lab. Karena semua serba dadakan akhirnya minta pap buat pulang antar Arka dan jemput mama. Saya ke labrotarium sendiri sampai balik ke poli untuk pasang infus memakai baju operasi.


Sore mama, pap dan Arka datang, wajah mama tegang. Iya semua gak ada yang sangka saya langsung tindakan, papa juga masih di luar kota tapi malam itu sudah sampai Bandung. 

Saya masuk ke kamar inap yang ternyata usia 12 tahun ke bawah tidak diperkenankan masuk, akhirnya Arka sama pap di luar, sedih. 

Setelah di kamar suster melakukan test alergi, kedua kali melakukan ini sebelumnya pas melahirkan Arka. Rasanya? Sakit gila!


Jam 7 malam saya sudah dijemput menuju ruang operasi, rasanya tak sabar dan deg-degan semua campur aduk. Arka sempat bingung mamihnya mau kemana, saya cuman minta dicium dan dipeluk dan didoain semuanya lancar, minta maaf ke mama papa dan telpon mertua juga.

Di ruang sebelum ruang operasi saya lumayan menunggu lama, dokter anestesi sempat mengajak ngobrol, di sini saya merasa diperhatikan padahal saya memakai BPJS tapi semua care, saya cerita riwayat sc terakhir saya yang berujung anestesi tidak mempan dan saya merasakan kesakitan luar biasa pada saat melahirkan Arka dan saya hanya bilang “dok, pastikan saya sudah dibius sewaktu operasi dilakukan ya?”. Dokter mengiyakan.

Lama sekali tak dipanggil pas petugas menelpon dsog nya beliau masih di jalan, hahahaa lupa kayanya saya mau tindakan hari ini.

Singkat cerita saya melakukan operasi dengan smooth lancar semua, anestesi dengan beberapa titik yang saya nikmati hingga proses yang saya bilang “ko lama banget ya ini padahal bayi uda keluar”.

Kembali ke ruangan sebelumnya sudah ada pap dan cerita Arka sudah pulang dengan mama papa, sempat wa an sama papa katanya Arka sudah tidur, gak lama mama sms bilang Arka menangis dan minta kembali ke RS sekarang juga karena gak mau tidur sama uti sama kungnya. Duh, pengen nangis kali kedua saya tinggalin dia tidur tanpa saya di samping seperti waktu saya tindakan kuret dan ini akan lebih lama. Pap liatin foto Kala saya cuman bisa menangis. Saya sempat cium pas di ruang operasi tapi tak sempat IMD.


Kalasenja, lahir tanggal 5 Januari 2017 pukul 21.23 dengan berat 2,7kg dan panjang 47cm.

Ternyata dari usg 3 kilo Kala lahir dengan berat 2,7 tergolong mungil karena Queena aja 2,8 kg waktu lahir. Alhamdulilah sehat semua.

Kalasenja Zinan Mufiz. Anak kedua laki-laki yang gemar menolong, begitu arti namanya. Kenapa dikasi nama senja padahal lahir malam? Saya kadung suka dengan namanya dan berharap bisa lahir sore menjelang malam, kesampaian cuman meleset beberapa jam, hahaha.

Kala? Seperti Arka saya mencari nama yang orang lain tak susah menulisnya tanpa dobel huruf tanpa ejaan yang harus diulang. Karena nama saya saja sudah sering salah ejaan masa anak saya ngalamin lagi repotnya kalau salah ejaan. Simpel kan alasannya.

Queena ke Arka, Arka ke Kala. Queenarkala.

Cerita kelahiran Kalasenja

“Jajan” ke dokter kulit sewaktu hamil

Postingan sebelumnya saya sudah bercerita apa yang sedang terjadi pada tubuh saya soal hormon. Ini kelanjutannya.

Kehamilan Queena gatal-gatal di dada saya hanya mandi dengan sabun hijau tapi di bagian yang gatal saja.

Kehamilan Arka saya tidak begitu menaruh curiga sewaktu banyak bintik hitam di kaki, saya anggap ya digigit nyamuk saya garuk dan berbekas.

Karena saya memang mengurus anak-anak sendiri (mama hanya mengawasi saja) sehabis melahirkan tidak begitu memperhatikan lagi si gatal-gatal. Tiba-tiba hilang saja, pas Arka pun akhirnya saya anggap “oh hormon”.

Karena kehamilan adik si hormon lebih parah hampir seluruh tubuh dan gatalnya gak main-main akhirnya saya memutuskan mencoba konsul ke dokter kulit. Tanya teman sana sini punya opsi masing-masing soalnya dokter kulitnya dan waktunya pas karena suami mau ke luar kota 4 hari saya kepikiran saya mesti “sehat”.

Akhirnya saya memutuskan datang ke salah satu Rumah sakit ibu dan anak di Bandung. Dokternya datang gak lama saya daftar tapi antrian saya sudah ke nomer 6. 

Akhirnya merasakan diperiksa di tempat biasa arka diperiksa kalau lagi ke dokter anak, grogi deg-degan. Saya datang memakai baju terusan u can see (yailah bahasanya :p) ditutup cardigan dan tanpa legging. Berfikir biar dokter bisa ngecek tanpa ribet saya buka celana atau atasan lebih dahulu.

Dokter bertanya ada yang gatal-gatal gak di rumah, saya bilang iya anak saya beberapa hari sebelum muncul gatal di badan dia seperti kena alergi binatang jadi biduran/kaligata. Beliau periksa detail sampai selah jari kaki saya pun tak luput diperiksa. Akhirnya saya perlihatkan semua “motif” baru di badan saya. Gak banyak omong dokternya sih, setiap pertanyaan yang saya ajukan misal, gara-gara minum kalsium gak ya dok, dia bilang bukan kalau alergi obat bentuknya tidak seperti ini, ini murni hormon. Makanan? Tapi saya makan juga gak aneh-aneh dok soalnya jarang makan di luar, beliau juga bilang tidak.

Akhirnya saya diberi 2 salep racikan, 1 oles tipis di badan dan 1 lagi khusus di lipatan paha dan obat minum racikan si dokter. Total kerusakan yang saya mesti bayar di kasir sekitar 550k. Ya, duit refund tiket pesawat pun melayang hahahaha. Soal si refund ini awal september saya dan arka berencana ikut mama papa nengok adik saya di Batam kemudian nyebrang ke Singapur, tapi awal bulan kemaren virus Zika lagi panas-panasnya di berita dan efek kalau kena yang lagi hamil serem banget akhirnya saya cancel tiket pesawat berdua dengan persen-persenan yang bikin manyun.

Oia soal sabun hijau di postingan sebelumnya, saya tidak mengunakan lagi. Sewaktu arka sekolah ternyata ada salah satu ibu yang dokter umum, melihat saya bercerita ke teman dan sesekali mengaruk dia penasaran akhirnya cerita, dan dianjurkan tidak mengunakan lagi karena efeknya bikin kering. Seharusnya memang harus dibikin lembab dan kalau di rumah memakai baju yg tipis saja (sementara saya di rumah memakai kaos dan celana panjang kaos dengan alasan kalau keluar rumah tinggal tambah cardigan dan kerudung). Disarankan memakai lactac*d yang buat bayi/anak saya. Setelah beberapa hari pakai itu kulit saya kering mungkin gak cocok.

Dokter kulit menyarankan memang menganti sabun mandi dengan sabun bayi, jadi sekarang pakai sabun arka saja alhamdulilah cocok.

Salep digunakan 2x sehari, saya putuskan pagi dan malam. Pagi sehabis mandi kalau malam saya gunakan sebelum tidur dengan catatan saya membersihkan badan dengan sabun tanpa mandi hanya kaki dan tangan agar sewaktu dioleskan kulit saya dalam keadaan bersih dan lembab. Plus biar gak sayang kalau dipakai setelah mandi sore masih ada sholat magrib dan isya takut hilang kehapus air. Bagian tubuh yang tidak terkena air wudhu saya oleskan sehabis mandi.

Karena isi salep dengan motif di tubuh tidak berbanding jadi sebelum waktunya kontrol sudah habis. Obat minum gak gitu kasi hasil juga, memang frekuensi mengaruk karena gatal saya jauh berkurang dan bagian yang merah-merah tipis sedikit memudar tapi tidak hilang. 

Sewaktu kontrol ke dokter kandungan begitu menyapa pertanyaan dr Leri langsung “gimana ibu gatal-gatalnya?”. Ya udah curhat deh saya ke dokter kulit karena dokter hanya menyarankan pakai calad*ne cair saja yang efek nahan gatal hanya 2-3jam saja. Terus ditanya diberi obat apa, disebutin salah satu nama obat yang memang iya diberi dokter ceritiz*ne di salah satu racikannya. Menurut beliau memang obat itu tergolong obat B yang masih aman bila dikosumsi ibu hamil. Ditanya ngaruh gak, saya cmn bilang “gak” hahaha. Iya berkurang rasa gatal tapi tidak hilang. Well, uda dipastikan ini hormon insya Allah hilang setelah lahiran dan doa saya semoga tidak berbekas.

Alhamdulilah adik sehat berat badannya sesuai bagus, hanya saya turun 1 kilo. Fyi, berat badan sewaktu periksa pertama kali berat badan saya di 71kg, kemudian bulan berikutnya 70,5kg, 73,5kg, 73,5kg dan sekarang di 72,5kg. Yang penting adik sehat dan berkembang sesuai usianya.

Saya gak bisa share motif di kulit saya karena memang aurat, tapi beberapa teman saya yang saya kirim gambar lumayan shock sih. Motif seperti bekas cacar dalam jumlah yang banyak menyebar di semua, dan beberapa seperti eksim ada di paha, lutut, bawah perut, pinggang dan pangkal paha. Sekarang eksim mulai mengelap tidak memerah lagi, beberapa bintik masih merah dan masih merasakan gatal, ini hari kedua saya tidak meminum obat dan memakai salep karena memang sudah habis.

Kontrol lagi gak ke dokter kulit? Kayanya gak sih, uda yakin gak akan hilang. Saya hanya menjaga kulit saya harus lembab dan untuk sementara waktu memakai baju tipis dan celana pendek kalau di rumah agar terhindar dari gesekan celana di kulit kalau berkeringat. Sama rajin bersihin badan biar tidak ketutup pori-porinya.

Oia sewaktu tanya ke dokter kandungan beliau menyuruh membaca tentang PUPPP (pruritus urticaria papule and plaque in pregnancy). Coba deh dibrowsing gambarnya kurang lebih begitu yang saya alami sekarang.

“Jajan” ke dokter kulit sewaktu hamil

Bersahabat atau membenci hormon?


Hormon sudah menjadi sahabat sebenernya dalam proses kehamilan. Tapi hormon setiap ibu yang sedang mengandung pasti berbeda dengan ibu yang lain. Bukan, bukan membahas hormon yang gampang lekas marah, atau cepat tersingung, ternyata bukan itu saja hormon yang dialami. Dialami dengan saya tentunya.

Semenjak tahu saya diberi kepercayaan lagi timbul pertanyaan apakah akan mual muntah seperti kehamilan anak-anak atau seperti kehamilan sebelumnya yang tanpa ada rasa mual dan muntah sama sekali? Ternyata saya kembali merasakan muntah. Muntah yang tak kenal waktu, kadang jam 1 malam terbangun ya bisa aja saya mengeluarkan isi perut yang sebenernya sudah kosong. Rasanya pahit tentunya, saya mengakali kalau mulai terasa saya minum air putih jadi yang keluar minimal si air putih bukan cairan kuning isi perut yang rasanya pahit sekali.

Kadang sehari saya bisa 5x muntah, sampai minum air putih saja kadang memancing untuk muntah. Mencoba untuk berdamai dengan rasa ini, selama tidak diberi rasa pusing saya masih bisa kuat. Tapi ternyata ya si pusing datang juga, sudah saya tidak bisa apa-apa. Bagi penderita vertigo timbul rasa pusing tapi tak bisa berbuat banyak (baca: minum obat) rasa ini tersiksa sekali. Kalau sudah tidak kuat akhirnya menengak panad*l saja.

Sampai kapan muntah ini? Apakah sama seperti kehamilan Queena yang sebelum lahiran saja saya masih muntah atau seperti kehamilan Arka yang masuk 3 bulan saya sudah tak merasakan mual berujung muntah.

3 bulan lewat saya masih muntah, oke tidak seperti kehamilan Arka, sampai setiap ditanya kok masih muntah di kehamilan bulan ke 4 saja saya tidak bisa menjawab. Karena biasanya memasuki trimester kedua rasa ini berkurang menghilang. 

Tapi alhamdulilah memasuki bulan kelima rasanya sudah tidak merasakan lagi rasa muntah, bukan tidak muntah lagi tapi bisa dibilang tidak tiap hari.

Hormon apalagi yang menghantui di setiap kehamilan anak-anak saya?

Ada lagi, rasa gatal.

Pada kehamilan Queena saya masih bekerja dan saya merasakan gatal seperti jerawat kecil-kecil di dada. Iya di dada di selingkaran bra saja. Namanya hormon menjelang lahiran dan sesudahnya hilang. Saya hanya mengunakan sabun hijau yang bisa dibeli di apotik.

Pada kehamilan Arka beda lagi, tidak ada gatal di dada tapi di kaki. Betis ke bawah terdapat bintik-bintik kemudian menghitam dan menjadi bekas. Gatalnya jangan ditanya deh, saya aja serem lihat betis saya waktu itu. Tapi menjelang lahiran jadi tidak begitu dipikirkan pas setelah lahir Arka saya lihat betis saya kembali bersih tanpa ada bekas seperti kemarin. Hormon kan itu?

Nah yang ini gimana?

Worst! Parah? Parah sekali. Bulan awal dada mulai menunjukan gatal-gatal, saya berpikir oh jangan-jangan anak perempuan ini soalnya sama kaya waktu hamil Queena. Eh gak lama ada di paha, kemudian di lipatan paha batasan dengan panggul dan pinggul.

Bintik-bintik saja? Awalnya begitu ketika mereka bersatu mereka menciptakan motif baru. Apa itu? Seperti eksim. Iya eksim si penyakit kulit itu. Karena hanya ada di daerah situ saja ya saya biasa aja tetap mengaruk karena rasanya aduhai sekali. Tapi lama-lama muncul di tempat lain dan sekarang all over my body. Tanpa terkecuali. Kalau gatal digaruk kan biasanya kaya biduran/kaligata gitu ya, ini tidak. Seperti merintis kecil atau bintik kecil keluar dari pori yang lama-lama menghitam dan seperti terkena kutu kucing. Sudah pernah kena kutu kucing? Saya sih sudah makanya tahu bentuknya hahaha.

Tapi ini bukan karena seluruh tubuh saya ada. Gatal bagian sini kemudian rasa itu hilang timbul di tempat lain, sampai di ketiak dan lebih parah dibawah payudara saya. Mereka berkumpul jadilah seperti eksim kalau jaraknya jauh-jauh ya kaya campak atau kena kutu kucing.

Menyeramkan. Bagi saya iya, bagi yang lihat juga. Curhat ke Dr Leri beliau hanya menjawab itu hormon pake calad*ne cair aja bu. Tanya petugas medis di puskesmas sama juga diresepi bedak salic*l. Ya mau gimana tidak ada obat yang aman. Rasanya mau menengak obat pengurang rasa alergi Arka aja tapi di situ jelas terpampang tidak boleh diminum oleh ibu hamil dan menyusui.

Tersiksa tapi tak bisa berbuat apa selain mengaruk. Rasanya nikmat lah, abis itu ya timbul di tempat lain. Akhirnya saya kembali mengunakan sabun hijau lagi yang setelah mandi rasanya perih pakai banget. Jadi ketika malam dan si rasa gatal datang saya cuman bisa memohon kepada suami untuk bantu mengusap-usap atau membaluri seluruh tubuh dengan lotion cair bewarna pink itu biar saya bisa tidur tanpa rasa gatal. Ya meski rasa itu akan terus ada apalagi kalau keringetan.

Should i deal with this or not? Dont know *crying

Memasuki bulan kelima dan baru mengunakan si sabun belum seminggu saya belum bisa kasi jawaban apakah ini akan hilang atau si bintik-bintik harus menyeluruh ada di tubuh saya. Semoga tidak lama ya, tapi kalau iya memang sampai lahir semoga saya istiqomah tidak mengaruk dengan keras. Hahaha.

Hormon pada ibu hamil bisa beda-beda malah ada yang tidak merasakan. Ada loh yang gak bisa kena sinar matahari kalau kena bisa pusing akhirnya tidak keluar rumah sama sekali, atau yang keluar jerawat di seluruh muka padahal biasanya bersih atau leher menghitam. 

Yang tidak merasakan bersyukurlah, yang merasakan? Nikmatilah. Hahahaha.

Oia problem bagi sebagian ibu hamil juga masalah pembuangan alias sembelit. Sudah minum air banyak, makan buah tapi tetap saja sembelit. Atau sedang merasakan seperti saya, ambeien? Gak elit ya, tapi sakit banget loh ini.

Ini penampakan sebagian kecil si gatal. Yang bentuknya seperti eksim tidak saya dokumentasikan karena memang di daerah terpencil.



Bersahabat atau membenci hormon?

Bercerita tentang kehamilan

Alhamdulilah minggu ini kehamilan ke empat insya Allah anak ketiga sudah menginjak usia 20minggu atau 5 bulan. Memang hamil sudah kami rencanakan dari awal tahun lalu, banyak pertimbangan sih ya salah satu usia saya dan suami yang sudah tidak muda lagi.

Setelah keguguran dan proses kuret akhir tahun lalu, Allah memberi kami lagi hadiah terindah. Saya hamil di bulan ke lima setelah keguguran. Alhamdulilah.

Karena pengalaman “tidak mengenakan” di kehamilan sebelumnya akhirnya saya lebih hati-hati di kehamilan ini. Karena haid saya yang sudah bisa ditebak dan belum datang juga saya inisiatif membeli testpack, yang murah saja tapi bagus. Setelah beli antara bingung mau coba besok pada pagi hari atau sekarang karena penasaran. Akhirnya karena hari itu kami sedang jalan keluar bersama mama ya saya coba di toilet sebuah klinik kecantikan. Hahahahaa.

Habis menunggu hasilnya kok garis satu tapi saya langsung memasukan ke kantong dan secepatnya keluar, intip sedikit eh garisnya ternyata dua. Alhamdulilah.


Proses mencari dokter kandungan

Jujur setelah keguguran saya bingung pilih dokter. Queena dan Arka saya hanya via bidan, lahiran baru dirujuk ke rumah sakit untuk dioperasi. USG pun dilakukan di bidan (iya di bidan disediakan jasa USG sekali seminggu dengan memanggil dokter kandungan ke tempat praktek bu bidan). Kehamilan kemarin saya berdasarkan info teman saja. Bisa dibaca di blog saya sebelumnya. Akhirnya saya cup cap cup aja memilih, rumah sakit pun saya pilih karena dekat dengan rumah mertua. Pas iseng ke sana dan ada yang praktek ya udah daftar, udah gitu aja. Masalah nanti cocok atau gak bismillah aja.

Dr. Leri Septiani di rumah sakit Grha Bunda Antapani

Pertama bertemu beliau selain welcome beliau bisa mengerti perasaan saya yang pernah BO (blinded Ovu atau janin tidak berkembang) karena beliau punya pengalaman yang sama. Merasa ada yang mengerti perasaan saya dokter ini langsung jadi poin plus. Beliau menjelaskan sangat detail, sampai terus dibuat semangat karena melihat sudah ada kantung dan makanan buat kantung katanya itu sudah pertanda baik, alhamdulilah. Waktu pertama kali bertemu saya sudah 5 minggu.

Setelah sampai rumah saya mencoba browsing tentang dokter ini hasilnya nihil, tak ada review atau blog yang bercerita. Hasilnya hanya tentang pendidikan yang sudah dia lalui. Sewaktu saya konfirmasi beliau hanya menjawab “iya bu saya kelamaan belajar cari beasiswa jadi pengalaman belum banyak sekali”. Tapi memang benar penjelasan beliau enak sekali, detail dan alhamdulilahnya setiap konsul di whatsapp selalu diberi jawaban yang bikin tenang.

Ternyata mengandung di usia 34 dengan riwayat 2x sc dan 1x keguguran membuat fisik saya sedikit cepat lelah. Minggu ke 6 saya tertular flu dan batuk yang tidak bisa berhenti. Setiap batuk otomatis semua ketarik termasuk rahim. Dan si flek pun datang lagi.

Panik

Iya saat itu saya panik dan ketakutan, seperti flashback ke kehamilan sebelumnya. Akhirnya memutuskan kembali kontrol padahal Dr Leri menyarankan 2 minggu lagi untuk kembali. Pada saat kontrol saya tidak bertemu Dr Leri karena ada tindakan di tempat lain. Dicek oleh Dr lain alhamdulilah semua baik, tapi saya diberi resep buat flu dan batuk plus obat penguat yang mesti diminum tepat waktu, jam nya harus sama setiap hari selama seminggu. Si obat batuk tak mempan akhirnya saya hanya kosumsi air kencur (kencur digeprek diseduh dengan air panas diberi garam sedikit) dengan rutin. Alhamdulilah semakin membaik.

Kontrol berikutnya kantung hamil berkembang dan si janin ada. Alhamdulilah.

Kehamilan yang ini ternyata kembali bertemu dengan muntah hebat, kadang sehari bisa 5x muntah. Bulan ramadhan pun tak bisa ikut puasa karena kondisi ini.

Oia, karena biaya lahiran di rumah sakit ini lumayan, dan jarak dari rumah juga jauh akhirnya mencoba bertanya dimana saja dokter berpraktek. Alhamdulilah semoga Dr Leri jodoh saya, ternyata rumah kami berdekatan dan dokter praktek di rumah sakit yang dekat rumah yang bisa dirujuk dari faskes pertama saya untuk tindakan. Iya mengunakan BPJS. Pengalaman kuret kemarin mengunakan jaminan kesehatan yah tak salah kalau lahiran kemungkinan saya memakai lagi. Toh saya bayar tiap bulan kenapa gak digunakan. Dibalik semua cerita kalau melahirkan dengan BPJS bla bla bla, doa saya cuman bismillah semoga dimudahkan segalanya. Saya dan calon adik mas Arka selalu sehat. Aamiin.

ketika calon adik berusia 17 minggu dan sudah bisa hai ke mamih

Alhamdulilah setelah usia 16minggu gerakan adik mas Arka sudah mulai terasa, sehat terus ya nak.

Bercerita tentang kehamilan

Hai Agustus

Suuuuh suuuuuh *tiup2 debu dulu

Udah lama banget gak posting banyak hal yang pengen diceritain, ya sebelum bulan ini habis mari kita tulis memori apa yang sudah terjadi di bulan belakangan ini.

Agustus selalu bahagia, kenapa? Karena saya ulang tahun, hahahaha. Simpel banget ya? Padahal mesti sedih umur nambah kesempatan di dunia makin sedikit.

Alhamdulilah di usia saya yang sekarang Allah memberi rezeki lagi, menitipkan calon bayi di rahim saya. Cerita tentang hamil yang ke 4 yang Insya Allah anak ketiga saya cerita di postingan sendiri aja ya.

Akhir Juli salah satu teman baik saya melepas masa lajangnya. Agak suprise juga karena saya dikirimin seragam padahal dia termasuk “adik” bukan teman sebaya. Karena sudah dikirimin otomatis dijahit dan datang dong ya meski lagi mual muntah dan resiko datang ke pernikahan pas akhir pekan tidak ditemani suami dan lokasinya di Jakarta.

Karena acaranya malam saya berencana tidak mengajak Arka, jaga-jaga takut mengantuk dan minta gendong. Meskipun sampe saya pulang Arka masih On belum tidur juga. Terima kasih sepupu ipar aku udah mau dititipin Arka selama ampir 5 jam.

selamat menempuh hidup baru Gita

Tuh ya perut saya sudah melendung hahahaha, resiko hamil uda sering dengan kulit perut tebal hamil berapa bulan pun terlihat sudah besar.

Bulan ini juga jadi bulan yang gak fit, lebih-lebih Arka. Flu dan batuk sembuh datang lagi, ritme nya begitu sampai badannya mulai mengurus dan otomatis timbangan pasti turun. Sampai saya tulis ini pun dia masih belum fit dengan kondisi susah makan. Patah hati lihatnya.


Kalau sedang hamil terserang sakit tidak sembarang obat bisa diminum apalagi saya sempat flek karena batuk parah pas awal kehamilan eh ketularan lagi. Cuman bisa minum vitamin C, air putih yang banyak dan rebusan air kencur. Sempat ke puskesmas tapi si obat tidak terlalu membantu.

tiup lilin tahun ini
 
Yang tiup Arka tetep, hahaha. Alhamdulilah masih diberi umur sama Allah, diberi nikmat kesehatan dan berdoa selalu menjadi makhluk yang lebih berguna dan bermanfaat bagi keluarga dan orang tercinta apalagi di depan Allah. Kisah di balik sate padang (iya itu sate padang) diberi lilin ada ceritanya.

Saya sedang ingin sate padang tapi di tempat yang bikin saya penasaran, pas saya ulangtahun suami ada kerjaan yang mesti dibereskan otomatis pulang sore dan saya cuman rekues minta dibawain itu dan dapat bonus keripik kentang pedas yang mana enak banget plus si lilin itu. Makasi ya sayang.

Pertengahan bulan Agustus kami juga dapat undangan ulang tahun dari anak teman baik kami. Karena jatuh di hari Minggu otomatis tidak bisa bareng pap, pap menyusul pas acara sudah selesai karena baru landing dari Surabaya. Lucunya lagi pap laporan kalau dari tadi susah landing jadi mutar-mutar aja di atas hampir sejam, dan kami pun tau karena pesawat pap memang beberapa kali terlihat di atas tapi gak posisi mau landing. Karena venue bandara di Bandung yang berada di tengah kota gak heran jarak pandang pesawat dengan kita yang di bawah gampang sekali terlihat jenis dan maskapai apa yang sedang melintas.

selamat ulang tahun Fabio

Ada teman pap yang bawa kamera terus foto-foto Arka dan Raffa, dimanfaatin aja buat foto bertiga juga. Makasih banyak om Ucin.

Moment paling mengharukan juga terjadi di bulan ini. Pas hari minggu juga sahabat baik saya di Padang (iya saya sempat sekolah di sana mengikuti papa yang ditempatkan dinas di sana selama 2 tahun) datang ke Bandung dan mengajak ketemuan.

Karena sore dan dari acara ulang tahun kami memutuskan untuk pulang jadi saya memilih pergi sendiri mengunakan gojek. Mall tempat yang dipilih juga tidak terlalu jauh dari rumah. 

Inilah kami yang waktu kelas 2 didalam 1 lokal (kelas) yang sama.


16 tahun gak ketemu badan sudah pada mekar semua. Foto dengan properti salah satu junk food hahahaha, gak bukan makanan saya itu lihat dong saya cuman makan ice cream aja (pencitraan yang sempurna). Makasi ya buibu mungkin kalau bukan karena kalian gak akan naek gojek untuk pertama kalinya di Bandung. 


Akhirnya juga bisa booster vaksin Arka, selesai juga rentetan vaksin dari dia bayi yang Alhamdulilah lengkap kap kap. Meski pas vaksin kemaren doi simultan alias suntik kanan kiri, alhamdulilah banyak kemajuan kata dsa nya dari segi perkembangan Arka. Tapi karena pas vaksin kondisi di rumah sakit lagi banyak anak yang batpil besoknya doi kembali batpil lagi. Dan buruknya sampai susah untuk makan, nafsu makan dia hilang blas. Patah hati banget, alhamdulilah sudah mendingan sekarang batpilnya tinggal si nafsu yang belum datang. Yuk nak, makan enak lagi 😭

Patah hati emang karena si virus muter pas di rumah sakit akhirnya kena lagi dan berat badan yang baru naik otomatis turun lagi.

Well, thats wrap for august story.

Semoga postingan ini bisa menjadi hiburan dan manfaat. Aamiin.

Hai Agustus

Goodbye you ❤❤❤

Dec, 1st 2015

Tulis post kali ini dalam kondisi sudah di rumah setelah tadi jam 12 siang kurang habis melakukan kurtase ( kuret). Iya, kehamilan saya yang ketiga di usia ke 33 tahun mengalami kegagalan.

Hamil sudah saya impikan dari awal tahun kemaren, di saat selalu berharap tidak haid di bulan berikut-berikutnya. Hamba mengatakan “ingin” dan mungkin Allah bilang “tunggu”. Jadi sabar aja. Teman silih berganti hamil, pengen juga dong ya, gak bohong, doa terus, usaha terus tapi Allah masih bilang “tunggu”.

Oktober 2015,

Tanggal biasa saya period belum menunjukan tanda-tanda yang biasa datang, ser-ser kaya mau keluar darah, cek dikit tiap buang air kecil hasilnya selalu bersih. Tapi kondisi badan melemah, cepat cape. Ini urutan minggu sampai si kantung keluar dan dibersihkan di ruang meja operasi.

Minggu ke 4,

Karena tidak terbiasa, iseng beli testpack, kali ini beli versi murah sekalian beli pribiotik karena Arka sedikit kurang sehat. Hasilnya negatif. Kecewa? Pasti.

Minggu ke 5,

Cek tisu masih bersih, badan rasa gak karu-karuan, nitip beli testpack (sekarang merk umum yang lumayan harganya) hasilnya dua garis alias positif (yeaaaay). Esoknya ke Obygn A hasil usg belum terlihat kantung disuruh kembali sebulan kemudian. Beberapa hari kemudian flek datang.

Panik? Pasti. Di dua kehamilan sebelumnya (Queena dan Arka) saya tidak mengalami flek, malah pas Queena saya masih bekerja dengan intensitas turun tangga lebih sering karena mual hebat dan toilet ada di lantai bawah. Oia, gejala mual muntah parah seperti di dua kehamilan sebelumnya juga tidak tampak. Tapi selalu positif thinking mungkin setiap kehamilan berbeda. Proses menyapih Arka juga mulai dilakukan, biasa aja sih gak pake drama, gak pake tangisan hanya untuk yang terbiasa tidur harus menyusu dulu jadi lebih agak berat karena durasi jadi lebih lama dan sempat ada sesi harus mengendong di saat mulai mengantuk. Arka sukses disapih usia 2.5tahun.

Akhirnya saya ke bidan terdekat, diberi vitamin dan didaftarkan USG awal bulan. Kebetulan di sana ada USG memanggil Obgyn (sebut saja Obygn C) setiap dua minggu sekali. Flek terjadi 2 hari meski saya sudah bedrest. Besoknya saya kembali ke Obygn A, mengantri kebetulan weekend. Pencarian obgyn kali ini cuma lewat pendapat teman atau mencoba karena teman sudah pernah lahiran dengan beliau-beliau.

Hasilnya, si kantung belum nampak. Kecewa lagi tetap disuruh balik bulan depannya.

Minggu ke 6,

Masih penasaran kok si kantung belum tampak terus, ganti obygn lagi. Kali ini rada jauh dari rumah. Hasilnya di kantung tampak dengan ukuran kantung 5-6minggu. Cerita saya flek diberi obat penguat kandungan, Obygn sebelumnya tidak memberi karena berpendapat belum tentu hamil meski sudah dua garis hasil testpack karena si kantung belum tampak.

Obat bekerja baik flek tidak datang lagi, dikasi untuk 15 hari.

Minggu ke 7,

Mual muntah belum tampak hanya sedikit eneg kalau menyuapin Arka. Dan cepat cape. Karena gak mual dan muntah saya melakukan aktifitas seperti biasa tapi diberi kelonggaran oleh suami tidak melakukan beberapa pekerjaan rumah.

Janji dengan Obgyn di tempat bidan pun saya lakukan, cuma pengen jelas aja. Menuju bidan jalan kaki karena lokasinya di luar komplek, hasilnya? Si kantung gak jelas, ada cuman ukurannya tidak 7minggu seperti perkiraan. Aduh dibikin campur aduk perasaan, akhirnya sore si flek datang lagi, mungkin kecapean karena saya jalan lumayan jauh. Tapi besoknya hilang. Saya diberi resep penguat kandungan untuk 5hari, karena masih ada dari Obgyn sebelumnya gak saya tebus.

Minggu ke 8,

Hari-hari berjalan biasa tanpa mual dan muntah hanya gampang cape.

Minggu ke 9,

Obat penguat habis, saya berusaha biasa dan berdoa tidak terjadi flek. Flek di sini cairan cokelat, kadang hanya di tisu tiap saya buang air atau sedikit bercak cokelat di celana dalam.

Beberapa hari tidak minum obat penguat lagi saya kembali flek. Bingung karena si obat abis tapi masih inget masih ada resep dari Obgyn yang di bidan. Tebus dong ya, agak bingung pas suami cerita harganya mahal hampir sama dengan harga penguat yang diberi Obgyn sebelumnya padahal beliau hanya bilang untuk 5hari. Kata suami di resep dengan nama obat yang sama diberi Obgyn yang rada jauh rumah sakitnya itu memang untuk 5hari tapi tiap hari disuruh minum 2x. Aneh kan, Obygn B resepnya hanya 1x sehari itu diminum saat malam saja, tanya teman dengan merek yang berbeda juga cuma 1 kali. Akhirnya memutuskan beli 2 butir aja.

Pas suami datang kaget dengan bentuk si obat yang agak lebih besar dari obat sebelumnya. Ternyata si dosis lebih tinggi. Obgyn B memberi dosis 100mg, Obgyn C malah memberi dosis 200mg dengan 2x minum sehari.

Gak boleh dsu’uzon diminum lah, reaksinya cepat mengantuk. Setelah coba tidur beberapa menit efek si obat langsung berasa, saya merasa semua muter, sempet berfikir vertigo saya kumat tapi kok sebelumnya ga ada pusing. Arka pup dan dibilas sampe pegangan tembok takut jatuh. Saya seperti melayang, langsung berfikir jangan-jangan karena dosis tinggi. Sampe merancu chat dengan suami dengan kata-kata “gw ngfly nih gila” *maaf pap.

Suruh adik beli susu beruang, minum berangsur-angsur rasa itu hilang dan kembali normal. Gak diminum lagi deh, sereeem.

Minggu ke 10,

Jadwal kontrol dengan Obygn B seharusnya masih minggu depan, cuman karena kasus kemarin jadi dimajukan. Dan si berita itu pun muncul, si janin dikawatirkan tidak berkembang, aturannya sudah minggu ke 10 tapi si ukuran masih 7 ke 8, dan si janin belum ada. Ini sudah dilakukan dengan USG transvaginal loh, jadi saya cuma bisa pasrah. Obgyn menyarankan segera ambil tindakan karena dikhawatirkan akan menganggu hormon dan kesehatan saya. Cuman karena feelin saya “ada ko dok janinnya” Obgyn bilang tidak mau dosa melakukan melebihi kehendak Allah, jadi saya disuruh kembali 2minggu lagi, kalau misal memang tidak berkembang siap-siap tindakan. Bisa melalui obat atau langsung dikuret. Biaya dikuret sekitar 3juta lebih di RS tersebut. Diberi 10hari obat penguat lagi.

Setelah dari situ saya cuman berdoa minta yang terbaik, kalau memang belum waktunya saya Insya Allah ikhlas, se ikhlas sewaktu Allah memanggil Queena. Kalau masih ada harapan saya ingin diberi, hanya memohon diberi kelancaran dan kemudahan, kemudahan dari segala bidang, jiwa saya, mental, fisik dan biaya.

BPJS

Asuransi satu ini sudah saya miliki dari bulan April tapi belum dipergunakan. Tanya sepupu bisa ditanggung karena kuret termasuk tindakan. Tanya sana sini prosedurnya gimana dan mulai mencari informasi. Datang ke puskesmas untuk tahu jadwal untuk kandungan, kebetulan bpjs kami di kelas 1 dan faskesnya puskesmas. Sekedar bersiap-siap kalau memang si kandungan tidak bisa dipertahankan.

30 Nov 2015,

Jadwal kandungan di faskes saya senin kamis. Hari senin ke sana dengan membawa kartu bpjs dan ktp sebelumnya fotokopi dulu. Di bagian
kandungan saya cerita dari kemarin terjadi flek dan itu seharian. Dicek mengunakan alat yang bising itu kebetulan di sana tidak terdapat mesin USG, dan dokter geleng-geleng. Iya gak kedetect si kantung atau janinnya. Saya berusaha senyum seperti sudah siap dengan kejadian ini. Surat rujukan ke rumah sakit terdekat pun didapat untuk memastikan dengan pasti lewat USG.

Akhirnya saya ke RS sendiri dengan angkot karena suami harus kembali ke rumah jaga-jaga Arka bangun.

Sampai RS dengan kondisi hari senin dan datang sekitar jam 8.30 saya dapat antrian nomer 145 hahaha *setres. Tanya kelengkapan apa aja, yang tertinggal saya gak bawa KK (kartu keluarga) pas dicek ditanya sudah pernah berobat di RS tersebut saya bilang sudah beberapa tahun yang lalu. Fyi, saya operasi Teroid dan opname karena vertigo di RS ini, Queena wafat pun di RS ini. Kebayang ya kecamuk hati saya kembali ke RS ini, mau gimana lagi terdekat dari faskes disini, dari rumah 30menit lah, karena dua jalan ke RS temasuk biang macet.

Yang dibutuhkan saat mendaftar via bpjs itu fotokopi ktp, bpjs, dan surat rujukan dan kk. Setelah daftar, untungnya sudah jadi pasien di RS ini KK agak diberi kelonggaran. Oia, diberi kemudahaan saat menunggu antrian, ada yang memberi nomer antrian lebih muda dari nomer antrian saya dan sampe dikasi nomer yang saya langsung bisa daftar loncat banyak sekali. Suami menyusul dengan Arka sambil bawa KK. Arka lagi masa yang kalau pergi pagi mood langsung jelek, tidak mau mandi dan tidak mau sarapan. Mereka datang membawa KK disaat saya selesai di bagian kedua pendaftaran bpjs untuk diatur sesuai poliklinik yang diinginkan. Ribet? Gak sih, asal mengikuti aturan dan persyaratan lengkap. Antri? Ya pasti namanya juga asuransi pemerintah.

Menunggu di poliklinik lama sekali, Obgyn belum datang.

Setelah dipanggil oleh Obgyn rada nyentrik ini, periksa cuma beberapa detik saya langsung bilang “kosong ya dok, gak berkembang?” Beliau jawab, “iya nih gak berkembang, opname ya besok kuret”.

Bersyukur. Bersyukur dapat jawaban dari kegalauan saya beberapa minggu, jawaban kenapa saya flek, sempet Obgyn bilang “gak boleh bu, kalau hamil jangan sampe flek”. Oia Obgyn B cerita kemungkinan gak berkembang karena pembuahan tidak sempurna, entah sel telur atau sperma nya dalam kondisi tidak bagus.

Langsung dapat rujukan untuk rawat inap, setelah kesana untuk daftar kondisi ramai jadi antri. Alhamdulilah dapat kamar meski turun kelas karena kelas yang saya punya di RS ini tidak tersedia untuk jaminan bpjs. Persyaratan kembali diminta, kali ini fotokopi ktp, kartu bpjs, kk, kartu rujukan dari puskesmas dan rujukan dari Obgyn semua 2 lembar.

Masuk kamar rawat inap, gak dipakaikan infus atau apa, biasa aja kaya nginap di hotel hahaha cuman minus TV. Arka diantar pap pulang karena gak mungkin menginap di RS. Dapat teman kamar yang akan SC besok harinya. Flek saya belum berhenti makin banyak. Karena saya banyak gerak dari pagi mulailah keluar si jaringan yang kaya setiap period datang.

Saya mendapat jadwal untuk kuret jam 10 pagi, puasa dari jam 4 subuh. Rekan kamar saya mendapat jadwal setelah saya. Oia, sebelumnya saya disuruh ke bagian bpjs untuk diberi tau estimasi biaya, karena suami belum kembali saya diantar pak satpam dengan kursi roda ke bagian estimasi biaya untuk bpjs. Biaya kuret di RS sekitar 3.5-5juta diluar kamar dan obat, kalau ada obat yang tidak ditanggung harus ditebus pribadi. Sempat tanya biasa dicover berapa oleh bpjs untuk tindakan kuret, petugas menjawab bisa di cover 80%, 90% hingga 100% bagaimana nanti tindakan dari dokternya.

Dan hari ini pun tiba,

Flek saya makin menjadi dan sekarang ditambah mules, mules hebat yang mungkin bisa dibilang kontraksi. Karena saya melahirkan dengan Operasi saya gak pernah merasakan kontraksi atau mules hebat. Sekarang diberi Allah pengen saya ngerasain semua. Durasinya 2-3 menit sekali, rasanya INDAH. Saat Obgyn visit beliau bilang tersumbat gak bisa keluar makanya mules. Okesip!

Karena rekan kamar juga merasakan kontraksi yang cukup intens dokter menyarankan untuk melakukan tindakan melahirkan kemudian saya menyusul. Bayi rekan kamar saya melintang, jadi takut bahaya.

Agak molor dari jadwal saya baru ke ruang operasi sekitar jam 11. Bagus sekarang ruang operasinya dari ruangan mengantri sebelumnya masuk ke ruang steril, ditutup kaca dalam kondisi tidur diberi angin-angin semacam blower. Baju operasi pun sudah saya ganti semenjak masih dikamar.

Tensi, pasang kepala infus dan menunggu giliran. Rekan kamar sudah masuk saya dapat teman baru disebelah korden yang tertutup dengan kondisi yang sama dengan saya, mau kuret. Teteh disamping kehamilan ketiga, sama seperti saya, anak pertama sudah 10tahun, yang kedua meninggal saat akan melahirkan jadi dioperasi untuk mengeluarkan bayi, dan yang ketiga ini yang akan dikuret.

Dan giliran saya dipanggil, dibawa ke ruangan yang dingin sekali. Diberi obat lewat kepala infus, kembali ditanya berapa berat badan, tinggi badan, golongan darah, riwayat kehamilan dll. Proses sangat cepat, saya diberi oksigen atau mungkin bius dan kemudian saya udah dibawah alam sadar. Kuret dengan bius total. Bermimpi di ruang angkasa dengan rubik-rubik seperti lego terbang kesana kemari dan kemudian berujung kejadian buruk dan,

Deg, saya sadar. Sadar di ruang pemulihan. Masih kondisi agak pusing kalau menghadap kanan kiri, pelan-pelan saya coba mengerakan semua anggota badan kecuali bangun ya, kanan rekam tensi kiri rekam denyut hahahaa. Dan di depan saya suara sayup anak kecil sedang proses disunat *hahaha. Untuk minus mata mendekati 10 boro-boro bisa melihat kondisi sekitar, cuma lampu dan tembok yang nampak. Oia teteh yang kuret ada disamping saya tapi masih belum sadar. Sempat tanya petugas saya ada dimana. Gak lama saya sadar, sekitar 15menit mungkin saya dipindah ke kamar inap. Mama menunggu di ruang tunggu keluarga, ambil kacamata kemudian tampak jelas. Mama terlihat letih, makan siang sudah telat, dan semalam menemani Arka dari magrib hingga dia tidur dengan segala permintaan aneh-anehnya. Mama tidak terbiasa mengurus Arka sampai tidur mungkin jadi rada kaget, maaf ya mah. Gak berhenti bilang terima kasih ya mah maaf jadi ngerepotin.

Sampai kamar rekan kamar sudah ada. Saya masih pusing kalau liat kanan kiri, tapi gak lama kemudian hilang. Sempet ke kamar mandi sendiri sampai ke tempat suster menanyakan bisa pulang hari ini juga tidak. Karena dengar-dengar kuret ini sistemnya ODC (one day care) setelah saya boleh makan dan minum dan sudah tidak pusing suster mulai memproses dengan telp dokternya meminta izin. Nah lumayan lama ini suster gak kembali memberi kabar akhirnya saya jalan menanyakan. Suami lagi mengurus Arka di luar karena sudah pengen pulang.

Suster menyarankan supaya menanyakan ke bpjs langsung, untuk rincian harga, dan resep obat dan izin untuk pulang.

Suami mengurus,

Biaya tindakan, kamar ditanggung alias GRATIS.

Obat ada 1 yang harus dibeli karena tidak ditanggung, biaya obat 52rb.

Izin suster sudah, izin dokter sudah, surat kontrol sudah ditangan, urusan bpjs dan obat kelar, izin ke satpam RS sudah, saatnya istirahat di rumah.

Alhamdulilah, semua dimudahkan dari cara si flek yang terus menerus berati Allah memberi jalan memang tidak bisa diteruskan bukan dokter memberi tindakan duluan, hingga biaya. Semoga sharing ini bisa memberi manfaat.

Allah pasti memberikan yang terbaik untuk hambaNya tidak pernah menyulitkan diluar kuasa dari hambaNya.

image
Kepala infus yang dibuka saat pulang

Not allowed to copy and paste photo without permission. fikih

Goodbye you ❤❤❤