Arka dan kesiapannya menjadi seorang kakak.

Saat kehamilan ketiga Arka di usia 2,5 tahun, problema saat itu dia belum disapih dan belum lulus toilet training. Kehamilan ketiga yang 11 minggu saja Arka sudah disapih dan sedikit lagi lulus toilet training. Gimana kehamilan keempat? Sebenernya sudah gak ada tugas berat dong ya, tinggal membekali Arka akan hadirnya anggota baru di keluarga kecil kami.

Pada saat kehamilan keempat Arka baru 3 tahun 1 bulan. Dari awal sudah diberi tahu tapi anak umur segini pasti belum paham benar. Apalagi pas muntah hebat dia selalu menangis dan ketakutan kalau mom nya sudah berisik di kamar mandi, sampai-sampai bilang “mamih muntahnya pake lagu aja biar gak berisik”. Dan selalu bertanya “dede bayi nya nakal ya bikin mamih muntah?”.

Seiring waktu perut mom pun yang sudah tebal dan besar sebelum hamil makin terlihat jelas ada “sesuatu” di dalamnya. Perilakunya masih ditahap wajar paling minta gendong.

Menuju trimester kedua dan ketiga barulah berasa aura yang katanya mau punya adik menjadi sesuatu yang harus dimaklumi. Kondisi fisik Arka jadi lebih gampang sakit, padahal saya sudah berusaha tetap menjadikan dia prioritas utama karena si adik belum lahir tapi tetap kondisi fisiknya kalah oleh cuaca. Cuaca di Bandung ekstrim banget dan tipe Arka yang gak bisa ditebak masalah selera makan pun jadi cepat kalah.

Ke dokter pun akhirnya bisa dibilang lebih sering, melihat itu saya membandingkan dengan kehamilan teman yang saat sedang mengandung si kakak diberi ujian alias sakit yang tak kunjung selesai sampai teman saya pun tertular. Ya mungkin beda-beda tiap kasus tapi minimal ada yang senasib dengan saya.

Arka begitu posesif kepada saya, tidur harus disebelah saya, baca doa harus dengan saya, saya tidur posisinya harus melihat dia dan hal-hal yang kadang “duh nak sama pap juga bisa kali”. Alhamdulilah pap nya sekarang jadi lebih sering pegang Arka tapi urusan tidur tetap mencari saya. Kadang dia sedang lari-lari tiba-tiba berhenti buat cium saya atau tiba-tiba gelendotan di perut saya, minta tidur di kaki saya dll.

Karena kedekatan kami jadi wajar saya mulai drop setelah Arka drop juga. Karena saya tipe stress kalau anak sakit jadi ya tambah pikiran bikin fisik saya tambah lemah. Pernah kemarin di saat saya sudah sembuh Arka pun demikian pap pulang tour mulai menampakan gejala kurang sehatnya, dan kami pun bertiga jadi parade batuk tiap malam. Saya yang tidak boleh minum obat melawan pap yang bisa minum obat otomatis cepat pulihan pap dibanding saya, tapi beda hal sama Arka dia tetap belum pulih benar. Dalam sebulan ini Arka sering bolak balik Rumah sakit karena batuk dan ternyata batuk alergi dan itu menimpa saya juga.

Obat saya apa? Mulai rutin minum jeruk nipis dan madu selain air kencur tentunya dan menghindari makan minyak. 

Oia dan kami akhirnya meminjam ke teman vacum cleaner buat membersihkan kasur dan itu efeknya luar biasa ke kami. Iya memang sudah banyak jasa sedot kasur sekarang, tapi kami harus dipikirkan karena disini kami masih tinggal dengan orang tua gak mungkin hanya kasur kami yang dibersihan sementara yang lain tidak. Keuangan finansial kami juga sedang tidak bagus, ketika teman mempersilahkan memakainya saya terus saja mengucapkna terima kasih. Dokter juga akhirnya menyarankan untuk membelinya, baik dok kami akan menabung, hehehe.

Oia setiap kontrol ke dokter kandungan Arka paling anti masuk ke ruang dokter. Apa Arka gak siap jadi kakak? Gak juga sih memang dia rada parno masuk ruangnya, otomatis hanya saya saja yang masuk pap temani Arka di luar. Kontrol di puskesmas pun saya lakukan sendiri. Tapi kontrol terakhir dia masuk dan mencermati setiap gerakan adiknya di layar dan akhirnya jadi banyak pertanyaan.

Memasuki fase 3 tahun yang mana anaknya tahap “lagi gak bisa dikasi tahu” ini kesabaran kayanya jadi kunci. Saya sih masih kurang sabar, masih ada nada tinggi kalau sudah tahap “lelah” dan pap pun yang bisa dibilang orang paling sabar di rumah pernah terlihat hampir “lelah” menghadapi Anak nan soleh ini. Ada saja kelakuannya yang bikin nada minor menjadi mayor mungkin hahahahaha.

Apalagi di saat kondisi dia sedang tidak enak, makan susah dan gak ngerti mau makan menunya apa. Duh perjuangan, plus kesolehannya yang makin hari bertambah soleh. 

Tanya teman lagi dia bilang kakaknya hati-hati sama perut ibunya, kalau Arka? Oh tentu tidak. Dia bisa aja iseng tendang punggung ibunya atau loncat-loncat terus mendarat dekat perut. Nendang perut tanpa sengaja uda jadi pemandangan biasa. Nada tinggi atau tangisan saya apalagi kalau habis kejadian itu. 

Setiap ditanya “Arka mau punya adik ya? Laki-laki atau perempuan?” Dia selalu mantab bilang “laki-laki” namanya siapa? Dia pun konsisten menjawab “jojon”. Hahahaha

“Nanti mamih tidur samping jebjeb ya biar dede bayi tidur sama pap”

“Nanti boleh kok mainan jebjeb dipinjem dede bayi kan harus sama-sama mainnya”

“Mamih beli mainannya harus dua ya, jebjeb juga dibeliin!”

“Ih baju dede bayi lucu amat ada train ada bus, kok jebjeb gak punya baju gambar kaya gini”

“Nanti jebjeb bantu mamih cuci baju dede bayi juga ya”

Dan lain-lain celetuknya Arka.

Ini memang masih jauh dari kenyataan nanti gimana setelah lahir, apalagi adiknya dikabarkan laki-laki juga. Apakah akan akur, atau mulai ada tercium persaingan, belum tahu. Bismillah saja semoga kesabaran mom nya masih ditahap wajar. 

Teringat kemarin pada saat menengok sepupunya yang baru sebulan dan tak berenti menangis, Arka cerita di rumah, “dede bayinya nangis mulu mamih” duh nak namanya bayi. *mulai parno

Santai mas, cinta mom selalu ada banyak buat mas dan adik kok.

Arka dan kesiapannya menjadi seorang kakak.